Jumat, 31 Mei 2013

PENGARUH POLUSI DOMESTIK TERHADAP KUALITAS AIR


LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN IV
PENGARUH POLUSI DOMESTIK TERHADAP KUALITAS AIR
NAMA                       : NUR SAKINAH
NIM                            : H41112293
KELOMPOK            : 1 (SATU) B
HARI/TANGGAL    : KAMIS/ 09 MEI  2013
ASISTEN                   : SUWARDI
                                      NURUL QALBY  

http://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2010/02/logo-unhas-hitam-putih.jpg




LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
          Dewasa ini lingkungan di sekitar kita sudah sangat memprihatinkan. Pencemaran air, pencemaran udara, dan pencemaran tanah terjadi dimana-mana. Hal ini diakibatkan oleh aktivitas manusia yang telah mengubah lingkungan yang tadinya nyaman menjadi tidak nyaman. Setiap hari kita berinteraksi dengan asap rokok, asap kendaraan, suara bising, dan limbah detergen. Lingkungan manusia sekarang telah berubah dengan masuknya zat-zat pencemar ke dalam lingkungan hidup kita semua (Ferial, 2013).
          Dalam suatau proses pasti dihasilkan limbah yang dapat berupa limbah rumah tangga, yang kehadirannya pada waktu dan tempat tertentu yang tidak dikehendaki lingkungan. Dalam konsentrasi dan jumlah tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negative terhadap lingkungan karena dapat menimbulkan pencemaran lingkungan (Ferial, 2013).
Meningkatnya aktivitas manusia di rumah tangga menyebabkan semakin besarnya volume limbah yang dihasilkan dari waktu ke waktu. Volume limbah rumah tangga meningkat 5 juta m3 pertahun, dengan peningkatan kandungan rata-rata sebanyak  50% . Konsekuensinya adalah beban badan air yang selama ini dijadikan tempat pembuangan limbah rumah tangga menjadi semakin berat, termasuk terganggunya komponen lain seperti saluran air, biota perairan dan sumber air penduduk. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya pencemaran yang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia dan lingkungan (Yusuf, 2008).
          Kegiatan manusia mengubah lingkungan dilakukan karena adanya kebutuhan hidup. Kebutuhan ini akan menjadi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Upaya pemenuhan kebutuhan manusia dipengaruhi oleh perkembangan budaya. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hasil perkembangan budaya digunakan untuk mengembangkan berbagai industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia (Whardana, 1995). Hal ini yang melatar belakangi dilakukannya percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan
          Tujuan dilakukanya percobaan ini adalah :
1.    Untuk mengetahui kualitas air dari beberapa sumber yang berbeda, dengan menggunakan methylen blue.
2.    Untuk mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan pencemaran lingkungan.

I.3 Waktu dan Tempat
          Percobaaan Pengaruh Polusi Domestik Terhadap Kualitas Air dilaksanakan pada hari Kamis 09 Mei 2013 pukul 13.00-16.00 WITA, bertempat di CANOPY, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan selama 4 hari.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Planet bumi sebagian besar terdiri dari air karena luas daratan lebih kecil dibandingkan dengan luas lautan. Makhluk hidup yang ada di bumi ini tidak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi ini. Namun dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat, Karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan indutsri dan lain-lain (Wardhana, 1995).
          Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata. Yang termasuk dalam parameter fisik ini adalah kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu, dan sebagainya. Parameter kimia menyatakan kandungan unsur/senyawa kimia dalam air, seperti kandungan oksigen, bahan organik (dinyatakan dengan BOD, COD, TOC), mineral atau logam, derajat keasaman, nutrient/hara, kesadahan, dan sebagainya.Parameter mikrobiologis menyatakan kandungan mikroorganisme dalam air, seperti bakteri, virus, dan mikroba pathogen lainnya. Berdasarkan hasil pengukuran atau pengujian, air sungai dapat dinyatakan dalam kondisi baik atau cemar. Sebagai acuan dalam menyatakan kondisi tersebut adalah baku mutu air, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 (Soendjojo, 1990).
          Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya misalnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan . Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air (Umar, 2013)
          Pencemaran berdasarkan bentuknya terbagi menjadi empat macam
(Effendi, 2003 ) yaitu :
a.    Pencemaran udara
Pencemaran udara berhubungan dengan pencemaran atmosfer bumi yang berasal dari kegiatan alami dan aktivitas manusia. Sumber  pencemaran udara di setiap wilayah atau daerah berbeda-beda. Sumber pencemaran udara berasal dari kendaraan bermotor, kegiatan rumah tangga, dan industri.

b.     Pencemaran tanah
Pencemaran tanah berasal dari limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, dan pertambangan.
c.    Pencemaran air
Pencemaran air meliputi pencemaran di perairan darat, seperti danau dan sungai, serta perairan laut. Sumber pencemaran air, misalnya pengerukan pasir, limbah rumah tangga, industri, pertanian, pelebaran sungai, pertambangan minyak lepas pantai, serta kebocoran kapal tanker pengangkut minyak.
d.   Pencemaran Suara (Kebisingan)
Ancaman serius lain bagi kualitas lingkungan manusia adalah pencemaran suara. Bunyi atau suara yang dapat mengganggu dan merusak pendengaran manusia disebut kebisingan. Tingkat kebisingan terjadi bila intensitas bunyi melampui 50 desibel (db). Oleh karena kebisingan dapat mengganggu lingkungan, kebisingan dapat dimasukkan sebagai pencemaran.
          Pencemaran air dapat dikelompokkan kedalam 2 jenis yaitu, sumber langsung dan sumber tidak langsung. Sumber langsung sumber-sumber langsung adalah buangan (effluent) yang berasal dari sumber pencemarnya yaitu limbah hasil pabrik atau limbah dari hasil kegiatan domestik berupa buangan hasil cucian atau sampah, pencemaran terjadi karena buangan ini langsung dibuang ke badan air (sistem) seperti sungai, danau, kanal, parit atau selokan.Sumber-sumber tidak langsung adalah kontaminan yang masuk melalui air tanah akibat adanya pencemaran pada air  permukaan baik dari limbah domestik maupun dari limbah industri  (Endang dkk, 2008).
          Air yang aman adalah air yang sesuai dengan kriteria bagi peruntukan air tersebut. Misalnya kriteria air yang dapat diminum secara langsung (air kualitas A) mempunyai kriteria yang berbeda dengan air yang dapat digunakan untuk air baku air minum (kualitas B) atau air kualitas C untuk keperluan perikanan dan peternakan dan air kualitas D untuk keperluan pertanian serta usaha perkotaan, industri dan pembangkit tenaga air (Whardana, 1995).
           Pencemaran pada air ini banyak di pengaruhi oleh Limbah rumah tangga.
Limbah rumah tangga seperti deterjen, sampah organik, dan anorganik memberikan andil cukup besar dalam pencemaran air sungai, terutama di daerah perkotaan. Sungai yang tercemar deterjen, sampah organik, bahan kimia dari perusahaan, bahan yang mudah tercemar dan susah diuraikan dan anorganik yang mengandung mikroorganisme dapat menimbulkan penyakit, terutama bagi masyarakat yang menggunakan sungai sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Proses penguraian sampah dan deterjen memerlukan oksigen sehingga kadar oksigen dalam air dapat berkurang. Jika kadar oskigen suatu perairaan turun sampai kurang dari 5 mg per liter, maka kehidupan biota air seperti ikan terancam (Lina, 1985).
          Pencemaran air terjadi apabila dalam air terdapat berbagai macam zat atau kondisi (misal panas) yang dapat menurunkan standar kualitas air yang telah ditentukan, sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu. Suatu sumber air dikatakan tercemar tidak hanya karena tercampur dengan bahan pencemar, akan tetapi apabila air tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan tertentu, Sebagai contoh suatu sumber air yang mengandung logam berat atau mengandung bakteri penyakit masih dapat digunakan untuk kebutuhan industri atau sebagai pembangkit tenaga listrik, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga (keperluan air minum, memasak, mandi dan mencuci) (Sugiharto, 1987).
          Ada beberapa penyebab terjadinya pencemaran air antara lain apabila air terkontaminasi dengan bahan pencemar air seperti sampah rumah tangga, sampah lembah industri, sisa-sisa pupuk atau pestisida dari daerah pertanian, limbah rumah sakit, limbah kotoran ternak, partikulat-partikulat padat hasil kebakaran hutan dan gunung berapi yang meletus atau endapan hasil erosi tempat-tempat yang dilaluinya (Soendjojo,1990).
          Parameter pencemaran air yaitu masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup, oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Air dikatakan tercemar apabila kualitasnya turun sampai ke tingkat yang membahayakan sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya. Ada beberapa parameter untuk mengetahui kualitas air, diantaranya (Izzudin, 2004) yaitu:
1.    Parameter Kimia
a.    DO (Dissolved Oxygen), yang dimaksud dengan DO adalah oksigen terlarut   yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Agar ikan dapat hidup, air harus mengandung oksigen paling sedikit 5 mg/ liter atau 5 ppm (part per million). Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri yang kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang.
b.    BOD (Biological Oxygen Demand), BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses mikrobiologis yang benar -benar terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara biologis. Dengan tes BOD  kita akan mengetahui kebutuhan oksigen biokima yang menunjukkan jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi oksidasi oleh bakteri. Sehingga makin banyak bahan organik dalam air, makin besar B.O.D nya sedangkan D.O akan makin rendah. Air yang bersih adalah yang B.O.D nya kurang dari 1 mg/l atau 1ppm, jika B.O.D nya di atas 4 ppm, air dikatakan tercemar.
c.     COD (Chemical Oxygent Demand), COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi K2,Cr2,O7 digunakan sebagai sumber oksigen. Pengujian COD pada air limbah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pengujian BOD yaitu : Sanggup menguji air limbah industri yang beracun yang tidak dapat diuji dengan BOD karena bakteri akan mati dan waktu pengujian yang lebih singkat, kurang lebih hanya 3 jam.
d.   TSS (Total suspended Solid),  TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron. Air alam mengandung zat padat terlarut yang berasal dari mineral dan garam-garam yang terlarut ketika air mengalir di bawah atau di permukaan tanah. Apabila air dicemari oleh limbah yang berasal dari industri, pertambangan dan pertanian, kandungan zat padat tersebut akan meningkat. Jumlah zat padat terlarut ini dapat digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran air. Selain jumlah, jenis zat pencemar juga menentukan tingkat pencemaran dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air. Jenis zat pencemar itu dibagi atas besar atau tidaknya kandungan organik atau non organik yang dapat mencemari air.
e.    PH, adalah drajat keasaman suatu zat. pH normal adalah 6-8. Tujuan metode pengujian ini untuk memperoleh drajat keasaman (pH) dalam air dan air limbah dengan  menggunakan alat pH meter.
f.     Total organik karbon (TOC), Total Carbon (TC), Inorganic Carbon (IC), TOC adalah jumlah karbon yang terikat dalam suatu senyawa organik dan sering digunakan sebagai indikator tidak spesifik dari kualitas air atau kebersihan peralatan pabrik. Total Carbon (TC) - semua karbon dalam sample, Total Inorganic Carbon (TIC) - sering disebut sebagai karbon anorganik (IC), karbonat, bikarbonat, dan terlarut karbon dioksida (CO 2); suatu material yang berasal dari sumber non-hidup. Dalam menganalisa TOC, TC, dan IC kita bisa menggunakan TOC analyzer.
g.    Parameter Logam, spektroskopi penyerapan atom adalah teknik untuk menentukan konsentrasi elemen logam tertentu dalam sampel. Teknik ini dapat digunakan untuk menganalisa konsentrasi lebih dari 70 jenis logam yang berbeda dalam suatu larutan.  beberapa logam yang berbahaya diantaranya : Hg (merkuri) , Ar (arsen), Cd (kadmium), Pb (timbal).
2.     Parameter Fisika
          Perubahan yang ditimbulkan parameter fisika dalam air limbah yaitu: padatan, kekeruhan, bau, temperatur, daya hantar listrik dan warna. Padatan terdiri dari bahan padat organik maupun anorganik yang larut, mengendap maupun suspensi. Akibat lain dari padatan ini menimbulkan tumbuhnya tanaman air tertentu dan dapat menjadi racun bagi makhluk lain.Pengukuran daya hantar listrik ini untuk melihat keseimbangan kimiawi dalam air dan pengaruhnya terhadap kehidupan biota.Warna timbul akibat suatu bahan terlarut atau tersuspensi dalam air, di samping adanya bahan pewarna tertentu yang kemungkinan mengandung logam berat. Bau disebabkan karena adanya campuran dari nitrogen, fospor, protein, sulfur, amoniak, dan zat organik lain.Temperatur air limbah akan mempengaruhi kecepatan reaksi hidrogen sulfida, carbon disulfida  kimia serta tata kehidupan dalam air. Perubahan suhu memperlihatkan aktivitas kimiawi biologis pada benda padat dan gas dalam air. Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada panca indra dan tubuh serta telah menimbulkan kerusakan pada ekosisteml ain. Misalnya gas buangan kendaraan bermotor yan gmenyebabkan mata pedih.
3.    Parameter Biologi
          Parameter biologi meliputi ada atau tidaknya pencemaran secara biologi berupa mikroorganisme, misalnya, bakteri coli, virus, bentos, dan plankton. jenis- jenis mikroorganisme di air yang tercemar seperti : Escherichia coli, Entamoeba coli, danSalmonella thyposa. Faktor utama yang dipertimbangkan ketika menentukan kualitas air ( Effendi, 2003 ) adalah:
a.    Kekeruhan
b.    Keasaman & alkalinitas
c.    Unsur jejak dan nutrisi seperti nitrogen, fosfor, halogen (klorida dan ion fluorida), logam alkali (natrium dan kalium ion), kalsium dan ion magnesium.
d.   Mikroorganisme
e.    Kandungan oksigen terlarut (DO)
          Sumber pencemaran air dapat meliputi sebagai berikut (Yusuf, 2008) yaitu:
1.    Limbah Pertanian
a.    Obat insektisida, bisa mematikan biota air.
b.    Pupuk, menyebabkan eutrofikasi, yakni suatu kondisi yang mengakibatkan kurangnya oksigen dan mendorong terjadinya kehidupan organisme anaerob.
2.    Limbah Rumah Tangga
a.    Bahan organik, menyebabkan biota air mati.
b.    Bahan anorganik, menyebabkan banjir.
c.    Bahan biologis, menyebabkan timbulnya penyakit.
3.    Limbah Industri
     Limbah industri meliputi bahan organik dan bahan anorganik.
4.    Penangkapan Ikan dengan Menggunakan Racun
     Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan beracun (seperti potassium).
            Percobaan ini lebih difokuskan terhadap jenis pencemaran yang ditimbulkan polusi domestik pada lingkup perairan. Polusi domestic atau dengan kata lain limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, misalnya limbah rumah tangga, dalam rumah tangga, air digunakan untuk minum, memasak, mencuci, dan berbagai keperluan lainnya. Setelah digunakan, air dibuang atau mengalir ke selokan. Selanjutnya, air tersebut mengalir ke sungai, danau, dan laut. Air buangan rumah tangga atau dikenal sebagai limbah domestik mengandung 95% sampai 99% air dan sisanya berupa limbah organik . Sebagian dari air buangan terdiri atas komponen nitrogen, seperti urea dan asam urik yang kemudian akan terurai menjadi amoniak dan nitrit. Pada perairan yang dimasuki oleh limbah rumah tangga biasanya akan menyebabkan populasi ganggang menjadi meningkat pesat sebagai akibat banyaknya persediaan nutrient, sebaliknya, persediaan oksigen dalam perairan tersebut semakin berkurang (Yusuf, 2008).


BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
          Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu botol sampel, gunting, dan pipet tetes.

III.2 Bahan
          Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu larutan Methylen Red 0,1%, air selokan, air kolam, air sungai, air laut jam 12 malam, air laut jam 6 pagi, air sumur, air PAM, air danau, kertas label, plastik elastis, dan karet gelang.

III.3 Cara Kerja
           Cara kerja pada percobaan ini adalah :
1.    Diberikan label pada setiap botol yang akan diisi air dari berbagai sumber
2.    Dimasukkan air kedalam masing-masing botol yang telah diberi label sesuai dengan urutan atau tulisan jenis air yang tertera pada botol.
3.    Ditambahkan kedalam masing-masing botol yang telah di beri label dengan larutan methylen red dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 0,5 ml atau secukupnya
4.    Ditutup mulut botol tersebut dengan menggunakan plastik elastik yang diikat dengan karet gelang dengan hati-hati. Diusahakan jangan ada gelembung udara yang terbentuk  didalam botol.
5.    Dikocok botol yang telah diberikan methylen red. 
6.    Disimpan botol tersebut di tempat yang terang dan diamati  perubahan warnanya setiap 24 jam. Pengamatan dilakukan 4 hari
7.    Dibuat laporan hasil pengamatan dan ditentukan kestabilan relatif air pada masing- masing sampel.























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.I Hasil
IV.1.1 Tabel Pengamatan
Hari
Perubahan Warna
Air laut malam
Air laut pagi
Air selokan
Air PAM
Air sumur
Air kolam
Air sungai
Air danau
1
++
++
++
+++
+++
+++
+++
+++
2
+
+
++
+++
+++
+++
+++
+++
3
+
+
++
++
++
++
++
++
4
+
+
++
++
++
++
++
++
5
+
+
++
++
++
++
++
++
Keterangan :
                      + + +  : merah sekali
           ++     : merah sedang
                        +        : merah muda
                         - - -   : bening jernih
- -      : bening sedikit merah
-         : bening merah



IV.2 Pembahasan
Polusi domestik merupakan polusi akibat aktivitas rumah tangga yang dapat berupa sampah, sisa makanan, sabun, detergen dan bahan tinja, dimana bahan ini mudah diuraikan oleh mikroba air dengan menggunakan oksigen yang terlarut dalam air.
Pada percobaan pengaruh polusi domestik terhadap kualitas air, yang bertujuan untuk mengetahui kualitas air dari beberapa jenis atau sumber air yang berbeda digunakan methylen red sebagai indikator untuk menguji tingkat pencemaran air. Alat dan bahan lain yang digunakan yaitu kertas plastik dan karet gelang yang digunakan untuk menutup air yang didalam botol, dan pada saat botol ditutup harus dengan hati-hati diusahakan tidak ada gelembung udara di dalam botol.  Alat dan bahan lain yang juga  digunakan yaitu pulpen dan kertas label yang akan ditempel pada masing-masing botol sehingga dengan mudah kita melakukan pengamatan dari jenis air yang akan diamati .
Dalam percobaan ini, digunakan delapan jenis air dari sumber yang berbeda yaitu air laut jam 12 malam, air laut jam 6 pagi, air kolam, air PAM, air sungai, air danau, air sumur dan air selokan yang diamati selama 5 hari. Pada hari pertama pengamatan, tiap air yang telah ditetesi dengan 0,5 ml methylen red menunjukkan bahwa warna air pada air laut jam 12 malam, air laut jam 6 pagi dan air selokan adalah merah sedang, sedangkan untuk lima jenis air yang lainnya warna airnya adalah merah sekali. 
Pada hari kedua, ada air dalam botol yang  mengalami perubahan warna dan ada yang tidak. Pada air laut jam 12 malam dan air laut jam 6 pagi warna airnya menjadi merah muda, sedangkan enam jenis air yang lainnya tidak mengalami perubahan warna masih sama seperti pada hari pertama. Pada hari ketiga, warna air laut jam 12 malam, air laut jam 6 pagi dan air selokan tidak mengalami perubahan warna masih sama seperti hari kedua, sedangkan lima jenis air yang lain mengalami perubahan warna menjadi merah sedang. Pada hari keempat semua jenis air tidak mengalami perubahan warna, begitu pula dengan hari kelima.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka dapat diketahui harga kestabilan relatifnya masing-masing air berdasarkan lama atau tidaknya air tersebut mempertahankan keadaan warna awalnya yang berwarna merah. Kedelapan jenis atau sumber air yang telah diuji dengan methylen red memberikan gambaran bahwa sumber air yang paling tinggi tingkat pencemarannya yaitu air laut jam 12 malam dan jam 6 pagi karena tidak mampu mempertahankan dalam waktu yang lama keadaan awalnya yang berwarna merah. Hal ini disebabkan karena air laut jam 12 malam dan jam 6 pagi  mengandung banyak mikroorganisme yang mampu menguraikan bahan organik yang terkandung dalam air tersebut, sedangkan pada jenis-jenis air yang lainnya yaitu air sumur, air kolam, air danau, air PAM dan air sungai mengalami perubahan warna walaupun lambat karena sedikitnya organisme di dalam air. Dalam percobaan terlihat pula bahwa air selokan tidak pernah mengalami perubahan warna. Untuk air selokan tidak sesuai teori karena seharusnya air selokan yang paling cepat berubah warnanya akibat banyaknya mikroorganisme yang ada di dalamnya. Air selokan adalah jenis air yang seharusnya paling tinggi derajat pencemarannya sehingga warna air cepat sekali berubah. Dalam hal ini, mungkin terjadi kesalahan dalam pengamatan warna air.
Banyaknya organisme dalam suatu perairan berdampak pada kandungan oksigen yang larut dalam air. Semakin tinggi aktivitas organisme (mikroba) menguraikan bahan organik,maka makin cepat kandungan O2 dalam air habis, begitu sebaliknya.



















BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
            Berdasarkan percobaab yang telah dilakukan tentang polusi domestik, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Pengamatan tentang kualitas dari kedelapan jenis air tersebut, diperoleh bahwa air yang memiliki tingkat kestabilan relatif air yang paling rendah yaitu air laut jam 12 malam, air laut jam 6 pagi dan seharusnya air selokan juga, sedangkan yang paling tinggi tidak ketahui karena pengamatan hanya dilakukan selama 5 hari. Harga kestabilan relatif air dapat diketahui dengan menggunakan methylen red. Air yang tercemar mempunyai kandungan oksigen yang rendah karena telah diuraikan oleh mikroorganisme dalam air tersebut, sehingga warna air cepat mengalami perubahan.
2.    Peralatan dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini telah dapat dimengerti penggunaannya, misalnya saja methylen red yang berfungsi sebagai indikator untuk mengetahui tingkat pencemaran di suatu perairan.

V.2 Saran
Adapun saran saya agar asisten dapat mendampingi praktikan dalam melakukan percobaan agar tidak terjadi suatu kesalahan.
             

DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Hefni., 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Yogyakarta.

Ferial, Eddyman W., 2013. Pengetahuan Lingkungan. Jurusan Biologi.       Universitas Hasanuddin, Makassar.

Izzuddin, F., 2004. Pengetahuan Lingkungan. Kawan Pustaka, Jakarta.
Lina, 1985. Pengaruh Waktu Inkubasi BOD Pada Berbagai Limbah. Universitas    Indonesia, Jakarta.

Soendjojo, D., 1990. Ekologi Lanjutan. Depdikbud. Universitas Terbuka, Jakarta.
Sugiharto, 1987. Pengelolaan air limbah. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Umar, M. R.,  2013. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Universitas             Hasanuddin, Makassar.

Whardana, Wisnu. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Universitas Gadjah    Mada, Yogyakarta.

Yusuf, Guntur, 2008. Bioremediasi Limbah Rumah Tangga Dengan Sistem          Simulasi Tanaman Air. Bumi Lestari. Vol. 8 No. 2. hal.       136-144.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar