Senin, 27 Mei 2013

KOLERASI ANTARA PANJANG DAN BERAT


LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM                       
PERCOBAAN 1
KOLERASI ANTARA PANJANG DAN BERAT
NAMA                       : NUR SAKINAH
NIM                            :H41112293
KELOMPOK            : 1 (SATU)
HARI/TANGGAL    : SELASA/ 19 MARET 2013
ASISTEN                   : SUWARDI
                                    NURUL QALBY  





LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang   
Tumbuh dan berkembang merupakan salah satu ciri makluk hidup. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan seiring. Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran suatu organisme yang irreversible (tidak dapat kembali ke keadaan semula) karena adanya pembelahan sel, pembesaran sel, dapat disebabkan oleh keduanya. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif. Perkembangan adalah terspesialisasinya sel-sel menjadi struktur dan fungsi tertentu. Perkembangan tidak dapat dinyatakan dengan ukuran, tetapi dapat dinyatakan dengan perubahan bentuk dan tingkat kedewasaan(Pratiwi, 2007).
Pertumbuhan dan perkembangan memiliki arti yang sangat penting bagi makhluk hidup. Misalnya pada manusia, dengan tumbuh dan berkembang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan melestarikan keturunannya. Sewaktu masih bayi, balita, dan anak kecil, manusia memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah sehingga mudah terserang penyakit. Tetapi, setelah tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, daya tahan tubuhnya semakin kuat sehingga kelangsungan hidupnya lebih terjamin (Hamid, 2010).
Setiap organisme dialam akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan.  Pada perkembangan meliputi 3 proses yaitu morfogenesis, diferensiasi, dan pertumbuhan, sedangkan pertumbuhan itu sendiri merupakan peningkatan ukuran organisme sebagai akibat dari pertambahan (pembelahan) jumlah sel, volume, ukuran danbanyaknya matriks intraseluler selnya (Umar, 2013). Oleh karena itu dilakukan percobaan ini untuk melakukan suatu pengukuran dengan beberapa biji untuk mengetahui kolerasi antara panjang dan berat biji tersebut.

1.2 Tujuan praktikum
            Tujuan dari percobaan ini antara lain:
1.        Untuk mengetahui hubungan korelasi antara panjang dengan pertambahan berat dari suatu sampel yang diukur.
2.        Mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan parameter fisik dalam lingkungan.

1.3 Waktu dan Tanggal Praktikum
            Percobaan kolerasi antara panjang dan berat dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2012 pukul 14.30-17.00 WITA yang bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Pertumbuhan adalah pertambahan massa dan volume yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Pertumbuhan pada organisme sering kali disertai dengan perubahan bentuk karena adanya perubahan volume. Perubahan volume ini terjadi karena pertambahan jumlah sel sebagai aktifitas titik tumbuh dan adanya penambahan substansi  didalam setiap sel. Pertumbuhan dimulai dari pertumbuhan zigot menjadi embrio dan akhirnya menjadi tanaman yang besar (Handayani, 2010).
Perkembangan adalah proses menuju kedewasaan. Perkembangan pada tumbuhan biasanya ditandai dengan matangnya serbuk sari atau spora. Perkembangan biasanya berjalan seiring denagn pertumbuhan yang sedang berlangsung. Proses perkembangan ini terjadi pada sel-sel gamet yang dipergunakan untuk bereproduksi. Pada tumbuhan berspora, proses perkembangan terjadi pada sporangium. Sporangiumadalah tempat spora yang sudah matang, proses pematangan spora yang juga proses perkembangan terjadi pada sporangium. Pada tumbuhan berbiji, pembentukan gamet jantan terjadi pada serbuk sari, sedangkan gamet betina terjadi pada kantung lembaga di dalam bakal biji (Mentari,  2009).
Perkembangan pada tumbuhan diawali dengan fertilisasi. Pada awal perkembangannya, embrio mendapatkan makanan dari kotiledon. Kotiledon terdapat pada biji tumbuhan tingkat tinggi. Tumbuhan dikotil memiliki dua kotiledon, sedangkan monokotil memiliki satu kotiledon. Pertumbuhan awal tumbuhan dari biji menjadi tanaman baru disebut perkecambahan. Berdasarkan letak kotiledonnya, perkecambahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu epigeal dan hipogeal. Pada perkecambahan epigeal, kotiledon terdapat di permukaan tanah karena terdorong oleh pertumbuhan hipokotil yang memanjang ke atas (Hamid, 2010).
            Pertumbuhan dalam tumbuhan ada 2, yaitu pertumbuhan primer dan sekunder. Pertumbuhan primer menghasilkan bagian tumbuhan primer yang terdiri dari 3 sistem jaringan, yaitu akar, batang, dan daun. Pertumbuhan primer menghasilkan bagian tumbuhan sekunder. Jaringan mengalami pertambahan dalam diameter. Pertambahan ukuran batang dan akar disebabkan dari produksi sekunder sel baru melalui kambium vaskular dan kambium gabus. Kambium vaskular merupakan perwujudan pertumbuhan yang terus-menerus dan sel meristem silinder yang menghasilkan xylem dan floem dimana floem sebagai jalan atau jalur zat organik dan hasil fotosintesis, sedangkan xylem sebagai jalan untuk air dan mineral. Keduanya merupakan saluran pengangkutan pada tumbuhan (Campbell, dkk., 2008).
Pada dasarnya pertumbuhan  ada 3 macam (Umar, 2013) yaitu:
a.    Pertumbuhan allometrik yaitu variasi pertumbuhan relatif pada berbagai bagian tubuh yang membantu memberi bentuk organisme
b.    Pertumbuhan determinan yaitu pertumbuhan organisme yang akan berhenti tumbuh setelah mencapai ukuran tertentu. Ini umumnya merupakan cirri khas dari hewan
c.    Pertumbuhan intermediet yaitu pertumbuhan organisme yang terus bertumbuh selama masih hidup. Ini umumnya merupakan ciri khas dari tumbuhan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan  (Asnani, 2009) antara lain:
A.  Faktor internal
Adapun yang termasuk dalam faktor internal yaitu:
1)   Gen
Ukuran, bentuk, dan kecepatan tumbuh dikendalikan oleh gen  gen yang terdapat di dalam kromosom. Gen-gen tersebut diwariskan dari induk tumbuhan kepada keturunannya. Gen-gen tersebut akan mengatur pola dan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
2)   Hormon
Hormon merupakan senyawa organik yang mengatur pertumbuhan tumbuhan. Hormon juga dikenal sebagai zat tumbuh, Seperti: Auksin, giberelin,  sitokinin, gas etilen, asam absisat, dan  kalin.
B.  Faktor eksternal
Yang termasuk dalam faktor eksternal yaitu:
1.    Air dan Mineral
Tumbuhan memerlukan air dan mineral untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Air dan mineral diserap dari dalam tanah oleh akar. Air berfungsi sebagai pelarut dan untuk fotosintesis. Mineral seperti karbon, nitrogen, fosfat, kalsium, dan magnesium berguna sebagai bahan pembangun tubuh tumbuhan.
2.    Kelembapan
Kelembapan menunjukkan kandungan air di tanah dan udara. Bila kelembapan rendah, transpirasi akan meningkat sehingga penyerapan air dan mineral semakin banyak. Keadaan ini dapat memacu laju pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
3.    Cahaya
Cahaya matahari sangat diperlukan dalam proses fotosintesis. Proses ini menghasilkan makanan yang dapat digunakan untuk mendapatkan energi dan membangun tubuh.
4.    Metagenesis
Siklus hidup tumbuhan memperlihatkan suatu pergiliran keturunan (metagenesis). Pergiliran keturunan meliputi fase gametofit dan sporofit. Fase gametofit atau fase generatif merupakan tahap menghasilkan gamet haploid. Fase sporofit atau fase vegetatif merupakan tahap menghasilkan spora. Gametofit menghasilkan gamet haploid yang menyatu membentuk zigot.
Cahaya mempunyai pengaruh penting terhadap tanaman yaitu proses fotosintesis dan pembungaan. Cahaya merupakan salah satu kunci penentu dalam proses metabolisme dan fotosintesis tanaman. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Respon tanaman terhadap cahaya berbeda-beda antara jenis satu dengan jenis lainnya. Ada tanaman yang tahan (mampu tumbuh) dalam kondisi cahaya yang terbatas atau sering disebut tanaman toleran dan ada tanaman yang tidak mampu tumbuh dalam kondisi cahaya terbatas atau tanaman intoleran (Mentari,  2009).
Teknik korelasi merupakan teknik analisis yang melihat kecenderungan pola dalam satu variabel berdasarkan kecenderungan pola dalam variabel yang lain. Maksudnya, ketika satu variabel memiliki kecenderungan untuk naik maka kita melihat kecenderungan dalam variabel yang lain apakah juga naik atau turun atau tidak menentu. Jika kecenderungan dalam satu variabel selalu diikuti oleh kecenderungan dalam variabel lain, kita dapat mengatakan bahwa kedua variabel ini memiliki hubungan atau korelasi (Ayu, 2011).
Pengukuran merupakan suatu aktifitas dan atau tindakan membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya terhadap besaran lain yang sudah diketahui nilainya, misalnya dengan besaran standart,  sedangkan pembandingnya yang disebut sebagai alat ukur. Pengukuran banyak sekali dilakukan dalam bidang teknik atau industri sedangkan alat ukurnya sendiri banyak sekali jenisnya, tergantung dari banyak faktor, misalnya objek yang diukur serta hasil yang di inginkan (Hamid, 2010).
Untuk mengetahui pertumbuhan pada hewan maupun tumbuhan dilakukan pengukuran panjang maupun berat sebelum dan sesudah pertumbuhan. Untuk mengukur perubahan panjang atau tinggi maupun berat dapat dikerjakan langsung pada objek yang hendak diukur dengan alat pengukur, misalnya penggaris, meteran, jangka sorong maupun neraca (Soedarjatmo, 2001).
Everhart dan Youngs (1981), menyatakan bahwa bahwa analisa hubungan panjang–berat yaitu dapat mengestimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu derivat penting dari pertumbuhan untuk membandingkan kondisi (fitness, well-being) atau keadaan kesehatan relatif populasi atau individu tertentu. Menurut Vakily, 1986 Hubungan panjang -berat dan faktor kondisi secara sistematis mempunyain ilai praktis karena dapat digunakan untuk mengkonversi panjang ke berat atau berat ke panjang (Manik, 2009).


BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain : Neraca saku (0,01 gram), Jangka sorong (0,05 mm), Spidol, Mistar, dan Kalkulator.

III. 2 Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu 15  buah biji Jarak Ricinus comunisdan 15 biji Flamboyan Delonix regia dan kertas HVS.

III.3 Cara Kerja
Cara kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut  :
1.    Kertas HVS diambil lalu bagi menjadi 15 bagian berbentuk kotak dengan spidol. Diberi nomor pada setiap kotak mulai dari nomor 1 hingga 15 dan diberi tanda P (panjang biji) dan B(berat biji) pada bawah tiap kotak untuk datanya.
2.    15 biji yang tersedia diambil secara acak dan diletakkannya pada kotak bernomor yang sudah dibuat.
3.    Untuk diukur panjangnya, diambil satu biji dari salah satu kotak kemudian ukur panjangnya denganjangka sorong, setelah selesai catat hasil pengukuran pada simbol P di kotak yang bijinya sedang diukur dan dikembalikan biji ke kotak semula.Ulangi hingga semua biji diukur.
4.    Untuk diukur beratnya, diambil satu biji dari salah satu kotak lalu ukur beratnya dengan timbang di Neraca saku, setelah selesai catat hasil pengukuran pada simbol B di kotak yang bijinya diambil dan dikembalikan biji ke kotak semula. Ulangi hingga semua biji sudah diukur.
5.    Hasil pengukuran di hitung dengan rumus dan analisis data tersebut. Gunakan 2 data dari 2 kelompok yang dilakukan pengukuran.














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1. Hasil Pengamatan
IV. 1. 1 Hasil Pengamatan Biji Jarak Ricinus communis
Tabel 1. Pengukuran Panjang dan Berat biji Jarak Ricinus communis
No.
Jarak Ricinus communis
Panjang (cm)
Berat (gr)
1
1,135
0,30
2
1,115
0,34
3
1,130
0,26
4
1,130
0,30
5
1,050
0,30
6
1,010
0,34
7
1,030
0,32
8
1,080
0,30
9
1,110
0,34
10
1,150
0,32
11
1,115
0,28
12
1,150
0,30
13
1,100
0,28
14
1,160
0,34
15
0,915
0,30
Jumlah
16,380
4,62

 IV. 1.  2. Hasil Pengamatan Biji Flamboyan Delonix regia
Tabel 2. Pengukuran Panjang dan Berat biji Flamboyan Delonix regia
No.
Flamboyan Delonix regia
Panjang (cm)
Berat (gr)
1
0,265
0,94
2
0,269
0,92
3
0,2625
0,88
4
0,266
0,92
5
0,266
0,84
6
0,268
1
7
0,275
0,94
8
0,255
0,94
9
0,2575
0,76
10
0,267
0,86
11
0,267
0,92
12
0,2495
0,9
13
0,262
0,9
14
0,246
0,84
15
0,2525
0,9
Jumlah
3,928
13,46

IV.2. Analisis Data

IV.2.1 Data Hasil Pengukuran Panjang dan Berat Biji Jarak Ricinus                communis
Tabel 3. Data Hasil Pengukuran Panjang dan Berat Biji Jarak Ricinus communis
No.
Xi
Xi²
(Xi-X)
(Xi-X)²
Yi
Yi²
(Yi-Y)
(Yi-Y)²
Xi.Yi
1
1,135
1,288
0,043
0,002
0,30
0,09
-0,01
0.0001
0,340
2
1,115
1,243
0,023
0,0005
0,34
0,11
0,032
0,0010
0,379
3
1,130
1,277
0,038
0,0014
0,26
0,07
-0,238
0,0566
0,294
4
1,130
1,277
0,038
0,0014
0,30
0,09
-0,01
0.0001
0,339
5
1,050
1,102
-0,042
0,0017
0,30
0,09
-0,01
0.0001
0,339
6
1,010
1,020
-0,082
0.0067
0,34
0,11
0,032
0,0010
0,379
7
1,030
1,277
0,038
0,0014
0,32
0,10
-0,208
0,0432
0,329
8
1,080
1,166
-0,012
0,0001
0,30
0,09
-0,01
0.0001
0,339
9
1,110
1,232
0,018
0,0003
0,34
0,11
0,032
0,0010
0,379
10
1,150
1,322
0,058
0,0033
0,32
0,10
-0,208
0,0432
0,329
11
1,115
1,243
0,023
0,0005
0,28
0,08
-0,028
0,0008
0,312
12
1,150
1,322
0,058
0,0033
0,30
0,09
-0,01
0.0001
0,345
13
1,100
1,210
0,008
0.00006
0,28
0,08
-0,028
0,0008
0,312
14
1,160
2,560
0,068
0,0046
0,34
0,11
0,032
0,0010
0,379
15
0,915
0,837
-0,177
0,0313
0,30
0,09
-0,01
0.0001
0,345
16,38
17,948
0,10
0,061
4,54
1,393
-0,005
0,020
4,956
rata-rata
1,092
1,291
0,006
0,0038
0,31
0,094
-0,642
0,149
0,342
x max
1,160
 -
y max
0,34
 - 
 -
 -
 -
x min
0,915
 -
 -
y min
0,26
 -
 -
 -
 -

a.    Panjang biji Jarak Ricinus communis
- Panjang rata-rata (X)             = 1,092 cm
- Panjang maksimum (X max) = 1,160 cm
- Panjang minimum (X min)    = 0,915 cm
b.    Berat biji Jarak Ricinus communis
- Berat rata-rata (Y)              = 0,303 gr
- Berat maksimum (Y max)   = 0,34 gr   
- Berat minimum (Y min)      = 0,26 gr
c.       Simpangan Baku untuk panjang biji Jarak Ricinus communis
Sx
        =
        =
        =
SDx =  0,064
d.      Simpangan Baku untuk berat biji Jarak Ricinus communis
Sy
        =
        =
        =
      SDy =  0,103
e.    Banyaknya Kelas
n Kelas       = 1 + 3,3 log n
                        = 1 + 3,3 log 15
                        = 4,88 ≈ 5

f.       Interval panjang
       = =  = 0,049 cm
g.      Interval berat
    =  = = 0,016 gram

h.       Distribusi Frekuensi Panjang biji Jarak Ricinus communis
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Panjang biji Jarak Ricinus communis
Kelas
Interval
Frekuensi
A
0,915 - 0,964
1
B
0,965-1,014
1
C
1,015-1,064
2
D
1,065 – 1,114
4
E
1,1151,164
7
Jumlah
15

i.         Distribusi Frekuensi Berat Biji jarak Ricinus communis
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berat Biji jarak Ricinus communis
Kelas
Interval
frekuensi
A
0,26 – 0,276
1
B
0,277 – 0,293
2
C
0,294 – 0,31
6
D
0,32 – 0,336
2
E
0,337 – 0,353
4
Jumlah
15

j.                    Grafik Batang (Histogram) Panjang dan Berat Biji Jarak Ricinus communis

     
Gambar 1. Histogram Panjang Biji Jarak Ricinus communis
Gambar 2. Histogram Berat Biji Jarak Ricinus communis
k.      Analisis Korelasi
              rxy     =
                             =
                             =
                             =
                             = 0,038
l.        Uji t (t test)
          t          =
          =
          =
          =
          = 0,136
Jadi, Nilai t tabel 0,136 sehingga nilai t hitung untuk biji jarak Ricinus communis adalah 3,012
IV.2.2 Data Hasil Pengukuran Panjang dan Berat Biji Flamboyan                  Delonix regia
          Tabel  6. Data Hasil Pengukuran Panjang dan Berat Biji Flamboyan Delonix                                     regia

No
Xi
Xi2
(Xi-X)
(Xi-X)2
Yi
Yi2
(Yi-Y)
(Yi-Y)2
Xi . Yi
1
0,265
0,07
0,005
0,000025
0,94
0,88
0,04
0,0016
0,2491
2
0,269
0,07
0,009
0,000081
0,92
0,85
0,02
0,0004
0,24748
3
0,2625
0,07
0,00025
0,00000625
0,88
0,77
-0,02
0,0004
0,231
4
0,266
0,07
0,006
0,000036
0,92
0,85
0,02
0,0004
0,245
5
0,266
0,07
0,006
0,000036
0,84
0,71
-0,19
0,0361
0,223
6
0,268
0,07
0,008
0,000048
1
1
0,1
0,01
0,268
7
0,275
0,076
0,015
0,000225
0,94
0,88
0,04
0,0016
0,26
8
0,255
0,884
-0,005
0,000025
0,94
0,88
0,04
0,0016
0,24
9
0,2575
0,066
-0,0025
0,00000625
0,76
0,58
-0,14
0,0196
0,196
10
0,267
0,07
0,007
0,000049
0,86
0,74
-0,04
0,0016
0,23
11
0,267
0,07
0,007
0,000049
0.92
0,85
0,02
0,0004
0,246
12
0,2495
0,06
-0,0105
0,00011025
0,9
0,81
0
0
0,225
13
0,262
0,07
0,002
0,00004
0,9
0,81
0
0
0,24
14
0,246
0,06
-0,014
0,000196
0,84
0,71
-0.06
0,0036
0,21
15
0,2525
0,06
-0,0075
0,00005625
0,9
0,81
0
0
0,23




a.       Panjang Biji Flamboyan Delonix regia
-          Panjang biji rata-rata (X)
(X)              = 3,928/15
 = 0,26 cm
-          Panjang biji  maksimum (X max)
X Max. =  0,275 cm
-          Panjang biji minimum (X min)
X Min.  = 0,246 cm
b.      Berat Biji Flamboyan Delonix regia
-          Berat biji rata-rata (Y)
                  Y    = 13,46/15
         = 0,9 gr
-          Berat biji maksimum (Y max)
Y Maks. = 1 gr
-          Berat biji minimum (Y min)
Y Min. =  0,76 gr
c.       Simpangan Baku Untuk  Panjang Biji Flamboyan Delonix regia
Sx
     =
     =
     = 0,0084

d.      Simpangan Baku Untuk  Berat Biji Flamboyan Delonix regia
Sy
     =
     =
     = 0,074s
e.       Banyaknya kelas
n kelas =1 + 3,3 log n
       = 1+ 3,3 log 15
= 1 + 3,3 (1,176)
= 1+3,8808
= 4,9 = 5
f.       Interval Panjang
Interval Panjang  =   = 0,0058
g.      Interval Berat
Interval Berat =  =  = 0,048
h.      Distribusi  Frekuensi Panjang Biji Flamboyan Delonix regia
Tabel 7. Distribusi  Frekuensi Panjang Biji Flamboyan Delonix regia
Kelas
KelasDistribusi
Frekuensi
A
0,246 – 0,2518
2
B
0,2519 – 0,2577
3
C
0,2578 – 0,2636
2
D
0,2637 – 0,2695
7
E
0,2696 - 02754
1



i.        Distribusi  Frekuensi Berat Biji Flamboyan Delonix regia
Tabel 8.  Distribusi  Frekuensi Berat Biji Flamboyan Delonix regia
Kelas
KelasDistribusi
Frekuensi
A
0,76 – 0,808
1
B
0,809 – 0,857
2
C
0,858 – 0,906
2
D
0,907 – 0,955
9
E
0,956 – 1,004
1

j.        Grafik Batang (Histogram) Panjang dan Berat Biji  Flamboyan Delonix regia
        
 Gambar 3. Histogram Panjang Biji Flamboyan Delonix regia

Gambar 4. Histogram Berat Biji Flamboyan Delonix regia

k.      Analisis Korelasi
r     =            n ∑ (Xi. Yi)– (∑Xi) (∑Yi)
           
 =                    15 (3,540) – (3,928)(13,46)
                            
       =                  53,1 – 52,87
                                
       =            0,23
                      
       =      0,23       
                      
 =   0,0227

k.        Uji t (t test)
          t             =
            =
            =
            = 0.096
Jadi, Nilai t tabel adalah  0,096 sehingga nilai t hitung untuk biji Flamboyan Delonix regia adalah 3, 012



IV.3  Pembahasan
Pada percobaan kolerasi antara Panjang dan Berat bertujuan untuk melihat hubungan korelasi antara panjang dan berat dari sampel yang diukur. Telah kita ketahui, bahwa pertumbuhan adalah peningkatan ukuran suatu organisme sebagai akibat dari pertambahan sel, pembelahan sel, volume, ukuran, dan banyaknya matriks intraselulrnya. Akibat dari pertumbuhan ini adalah terjadinya pertambahan panjang, lebar, diameter, dan dengan secara pasti akan diikuti pertambahan berat organisme.
Pada  kelompok 1 bertugas mengukur panjang dan berat dari biji jarak Ricinus communis. Dari 15 biji yang diukur, masing-masing biji memiliki ukuran yang bervariasi baik dari segi panjang maupun massanya. Setelah diukur semua, diperoleh hasilnya yakni  panjang rata-rata (X) = 1,092 cm, berat rata-rata (Y)  =  0,303 gram, simpangan baku untuk panjang biji jarak yaitu  SDx=  0,064, dan simpangan baku untuk berat biji jarak ialah SDy=  0,103
            Pada tabel hasil kelas dari biji jarak, menunjukkan bahwa terjadi berbagai variasi pada grafik frekuensi panjang biji dan terjadi fluktuasi pada grafik frekuensi berat biji. Dari grafik inilah kita bisa melihat bahwa, tidak selamanya panjang dan berat biji selalu berkorelasi. Ada juga biji yang berukuran pendek tapi memiliki  massa yang lebih besar, begitupun sebaliknya.
            Hasil analisis korelasi biji jarak adalah 0,038 dan hasil analisis nilai t hitung yang diperoleh adalah 0,136 yang berarti bahwa nilai t hitung lebih kecil nilai t tabel yang mempunyai nilai 3,012. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan Hi ditolak sehingga pada biji jarak tidak terdapat korelasi antara pertambahan panjang dengan pertambahan berat biji. Sehingga, korelasi tersebut bersifat negatif dan nonsignifikan yang berarti pertambahan panjang biji tidak ikuti oleh pertambahan berat.
            Pada kelompok II, bertugas untuk mengukur dan mengolah data mengenai hasil pengukuran dari panjang dan berat biji Flamboyan Delonix regia. Sama seperti data di kelompok satu, masing-masing ukuran biji flamboyan  memiliki panjang dan massa biji yang berbeda-beda yang diukur menggunakan neraca saku dan jangka sorong. Data-data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel untuk diolah.
            Pada biji flamboyan Delonix regia, memiliki ukuran yang lebih panjang dibandingkan biji jarak. Panjang rata-rata yang dimiliki panjang biji flamboyan mencapai 0,26 cm dengan berat 0,9 gram. Data- data yang diperoleh pun diolah dalam rumus untuk menentukan simpangan baku, untuk panjang biji flamboyan mencapai 0,0084 dan berat biji flamboyan 0,074
      Hasil analisis korelasi  biji flamboyan Delonix regia adalah 0,0227 dan nilai uji t hitung yang diperoleh pada biji flamboyan adalah 0.096 yang berarti nilai t hitung lebih kecil dari nilai t pada tabel yaitu 3,012. Hal ini menunjukkan bahwa Hi ditolak dan Ho diterima sehingga pada biji flamboyan Delonix regia tidak terdapat korelasi antara pertambahan panjang dengan pertambahan berat biji, Sehingga korelasi bersifat negative dan tidak signifikan yang berarti pertambahan panjang biji tidak diikuti oleh pertambahan berat atau dengan kata lain, berat biji tidak dipengaruhi oleh ukuran panjangnya. Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya misalnya saja kesalahan pada manusia yang melakukan perhitungan (Human Error), kesalahan pada kalibrasi alat, ataupun faktor internal dari biji tersebut (misalnya faktor gen, hormon, dan nutrisi).
            Variasi antara panjang dan berat pada biji  jarak Ricinus communis  dan biji flamboyan Delonix regia disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kepadatan sel, struktur dari biji tersebut, kerapuhan, dan adanya masa dormansi atau masa istirahat pada tumbuhan. Apabila suatu biji, sel-selnya padat tentu diameter dari sel tersebut besar dan akan menambah berat dari biji tersebut. Begitupun dengan struktur dari biji, apabila strukturnya baik akan mempengaruhi pertumbuhan biji tersebut. Suatu sel apabila selnya terlalu rapuh tentu akan mempengaruhi pertambahan ukuran dari sel tersebut. Dan dengan adanya masa dormansi atau masa istirahat pun akan berpengaruh terhadap panjang dan berat suatu sel. 









BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1.   Tidak terdapat korelasi antara panjang dan berat dari sampel yang diukur. Jika dikaitkan dengan teori, pertumbuhan adalah proses pertambahan volume, ukuran yang mengakibatkan terjadinya pertambahan berat, teori tersebut tidak mutlak benar karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi  yaitu, materi yang terkandung di dalamnya, kepadatan sel, struktur sel, kerapuhan, dan adanya masa dormasi pada sel.
2.   Dalam mengukur korelasi antara panjang dan berat digunakan alat yang berhubungan dengan parameter fisik dalam lingkungan yaiu jangka sorong yang digunakan untuk mengukur panjang biji dan neraca saku digunakan untuk mengukur berat biji.

V.2 Saran
                  Saran saya agar peralatan yang digunakan jumlahnya sesuai dengan jumlah kelompok agar kita tidak mengantri untuk menggunakannya dan menyediakan alat yang layak pakai bukan alat yang rusak.



DAFTARPUSTAKA
Asnani, 2009. Pertumbuhan dan Perkembangan. http://asnani-biology.       blogspot.com/2009/05/pertumbuhan-dan-perkembangan.html.Diakses  pada  tanggal 20 Maret 2013, pukul21:15 WITA.
Ayu, R. D., 2011. Hubungan Korelasi antar Panjang dan Berat.     http//www.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 21 Maret 2013, pukul 18.20 WITA.
Campbell, N. A.,J. B. Reece, and L. A. Urry., 2008. BIOLOGI Edisi kedelapan jilid 3.      Erlangga, Jakarta.
Hamid, Huzaifah, 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan. http://zaifbio.             Wordpress.com/2010/02/12/pertumbuhan-dan-perkembangan/.Diakses       pada tanggal 21 Maret 2013, pukul  20:25 WITA.
Handayani, Komariyah, 2010. BIOLOGI. Sekawan, Klaten.
Manik, Nurdin, 2009. HUBUNGAN PANJANG – BERAT DAN FAKTOR             KONDISIIKAN LAYANG ( Decapterus russelli ) DARI PERAIRAN         SEKITAR TELUK LIKUPANG SULAWESI UTARA. Oseanologi dan             Limnologi di Indonesia.

Mentari, 2009. Perkembangan. http///www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 21Maret 2012, pukul 20.00 WITA.

Pratiwi, R.A., 2007. Biologi Pertumbuhan dan Perkembangan.       Erlangga,         Jakarta.

Soedarjatmo, 2001. BIOLOGI. PT Intan Pariwara, Klaten.
Umar, M. R., 2013. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas          Hasanuddin, Makassar.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar