Jumat, 31 Mei 2013

INDEKS PERBANDINGAN SUKENSIAL KEANEKARAHAMAN BENTOS DI EKOSISTEM PERAIRAN


LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN V
INDEKS PERBANDINGAN SUKENSIAL KEANEKARAHAMAN BENTOS DI EKOSISTEM PERAIRAN

NAMA                       : NUR SAKINAH
NIM                            : H41112293
KELOMPOK            : 1 (SATU) B
HARI/TANGGAL    : KAMIS/ 23 MEI  2013
ASISTEN                   : SUWARDI
                                      NURUL QALBY  







LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1   Latar  Belakang
Secara Astronomis, Indonesia terletak pada 6 LU - 110 LS dan 950 BT - 1410 BT. Artinya, Indonesia terletak di daerah iklim tropis karena terdapat di antara 23½0 LU dan 23½0 LS, ciri-ciri daerah tropis antara lain memiliki temperatur udara cukup tinggi, yaitu 26 0C - 28 0C, curah hujan pun cukup tinggi, yaitu 700 - 7.000 mm/tahun dan tanahnya subur karena proses pelapukan batuan cukup cepat. Untuk kekayaan hewan, Indonesia memiliki jumlah keragaman yang tinggi dibandingkan negara-negara lain (Rahma, 2006).
 Keanekaragaman hayati atau “biodiversitas” menunjukkan sejumlah variasi yang ada pada makhluk hidup baik variasi gen, jenis dan ekosistem yang yang di suatu lingkungan tertentu. Keanekaragaman hayati yang ada di bumi kita ini merupakan hasil proses evolusi yang sangat lama, sehingga melahirkan bermacam-macam makhluk hidup. Keanekaragaman hayati dapat dikelompokkan atas keanekaraman gen, jenis  dan ekosistem (Rahma, 2006).
Menurut Thornton et al. (1990) produsen primer di sungai, danau, dan waduk terdiri dari fitoplankton, bakteri, alga bentik (perifiton), dan makrofita. Pada kondisi perairan berarus perifiton lebih berperan sebagai produsen primer, sedangkan fitoplankton cenderung lebih dominan peranannya pada sungai yang dalam dan besar (Awaluddin, 1999). Oleh karena itu Percobaan ini dilakukan untuk memberikan gambaran tentang pemanfaatan bentos sebagai indikator kualitas perairan, khususnya pada wilayah danau Universitas Hasanuddin.  Adapun hal-hal yang dikemukakan meliputi pengertian bentos, faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan bentos, pemanfaatan bentos sebagai indikator kualitas perairan pesisir, dan spesies indikator.

1.2    Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
1.        Untuk mengetahui keragaman bentos dalam ekosistem perairan berdasarkan indeks  perbandingan sukensial
2.        Mengenalkan dan melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan keragaman bentos dalam perairan

1.3  Waktu dan Tempat Praktikum
Percobaan Indeks Perbandingan Sukensial Keanekaragaman Bentos Di Ekosistem Perairan dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 02 April 2013 pukul 15.00-17.30 WITA, di Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengambilan sampel dilaksanakan pukul 06.00-07.30 di sekitar Danau Universtas Hasanuddun.







BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA

            Ekosistem merupakan suatu sistem di alam dimana terdapat hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya. Ekosistem sifatnya tidak tergantung ukuran tetapi ditekankan pada kelengkapan komponennya. Berdasarkan atas habitatnya, ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat (terestrial) dan ekosistem perairan (akuatik). Komponen-komponen suatu ekosistem perairan dapat dikenal berdasarkan cara hidupnya yaitu bentos, perifiton, plankton, nekton dan neston. Salah satu komponen yang memiliki variasi organisme yang cukup banyak dalam suatu perairan sangat ditentukan pula oleh jenis substrat dasar, makin bervariasi substrat, makin bervariasi pula organisme yang dapat hidup di dalamnya. Umumnya organisme yang termasuk bentos didominasi oleh hewan-hewan dari kelompok gastropoda, bivalvia, crustaceae, dan annelida (Umar, 2013).
Ekosistem perairan dibagi dalam tiga kategori utama yaitu ekosistem air tawar, esturia dan ekosistem air laut. Ekosistem air laut sangat penting bagi kehidupan manusia. Samudera yang menutupi sebagian permukaaan bumi berperan dalam mengatur iklim bumi, atmosfer dan tempat berlangsungnya siklus mineral. Ekosistem esturia merupakan zona peralihan antara air tawar dan air laut yang memiliki sifat tersendiri (Soegianto, 2004).
Penggolongan ekologi yang didasarkan pada bentuk kehidupan atau kebiasaan hidup, (Setiadi,1989) yaitu :

1.        Plankton
Plankton adalah organisme yang pergerakannya diatur oleh arus perairan. Cara ideal untuk mempelajari plankton merupakan cara yang tidak hanya memperkirakan jumlah makhluk hidup, namun juga suatu konsentrasi spesies sangat berbeda dalam ukuran. Umumnya plankton hewan  (zooplankton) lebih besar daripada plankton tumbuhan (fitoplankton). Beberapa fitoplankton mempunyai ukuran kurang dari 1/100 mm dan dapat lolos dari jarring-jaring plankton terhalus. Bentuk plankton seperti ini disebut sebagai nano plankton. Bentuk lebih besar yang tertahan oleh jarring-jaring plankton standar disebut plankton jaring atau plankton tersaring
2.        Bentos
Bentos merupakan beragam binatang dan tumbuhan yang hidup pada dasar perairan. Nama bentos diberikan pada organisme penghuni dasar. Harus benar-benar diketahui bahwa istilah “bentos” mencakup substrat pada garis pantai, demikian juga kedalaman terbesar dari badan air. Seperti dapat diharapkan, kondisi untuk kehidupan akan beragam tidak hanya pada kedalaman yang berbeda, namun juga dengan sifat fisik substrat, keragama demikian hanya beberapa sifat dapat diketahui. Hewan bentos dibagi berdasarkan cara makannya, yaitu pemakan penyaring, seperti kerang dan pemakan deposit seperti siput.
3.      Nekton
Nekton adalah organisme yang dapat bergerak dan berengan dengan kemauan sendiri

4.      Neuston
Neuston adalah organisme yang beristirahat dan pada permukaan perairan
5.        Perifiton
Perifiton atau lebih tepat aufwuchs adalah nama yang diberikan pada kelompok berbagai organisme yang tumbuh atau hidup pada permukaan bebas yang melayang dalam air seperti tanaman, kayu, batu dan permukaan yang menonjol
Bentos merupakan organisme yang mendiami dasar perairan dan tinggal di dalam atau pada sedimen dasar perairan. Payne, (1989) dalam Sinaga, (2009) menyatakan bahwa makrozoobentos adalah hewan yang sebagian atau seluruh hidupnya berada di dasar perairan, baik sesil, merayap maupun menggali lubang. Berdasarkan cara hidupnya, bentos di bedakan atas 2 kelompok yaitu: infauna dan epifauna (Barnes dan Mann, 1994 dalam Sinaga, 2009). Infauna adalah kelompok makrozoobentos yang hidup terbenam di dalam lumpur (berada di dalam substrat), sedangkan epifauna adalah kelompok makrozoobentos yang menempel di permukaan dasar perairan (Firstyananda, 2011).
Perifiton merupakan gabungan beberapa ganggang, cyanobacteria, mikroba heterotrofik, dan detritus yang melekat pada permukaan batuan, kayu dan tanaman serta hewan air yang terendam pada ekosistem perairan. Perifiton di perairan mengalir pada umumnya terdiri dari diatom (Bacillariophyceae), alga hijau berfilamen (Chlorophyceae), bakteri atau jamur berfilamen, protozoa, dan rotifera (tidak banyak pada perairan tidak tercemar), serta beberapa jenis benthos. Komunitas pembentukan perifiton yang ada pada substrat (Odum, 1994).
Kualitas kehidupan di dalam air sangat dipengaruhi oleh kualitas perairan sebagai media hidup organisme.  Makin buruk kualitas suatu perairan, makin buruk pula kualitas kehidupan di dalam perairan tersebut. Ini berarti bahwa komunitas organisme di perairan tidak tercemar berbeda dengan di perairan tercemar. Untuk mengetahuinya dapat digunakan indikator biologis. Terdapat beberapa kelompok organisme yang dapat digunakan sebagai indikator pencemaran perairan salah satunya adalah makrozoobentos (Soegianto, 2004).
Hewan bentos hidup relatif menetap sehingga dapat digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu karena hewan bentos terus menerus berada dalam air yang kualitasnya berubah-ubah. Selain itu, makrozoobentos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya  organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif), maka penyebarannya juga sempit. Makrozoobentos yang memiliki toleran lebih tinggi, tingkat kelangsungan hidupnya akan semakin tinggi. Oleh karena itu, tingkat pencemaran suatu perairan dapat dilihat dengan keanekaragaman dan kelimpahan  makrozoobenthos yang terdapat di wilayah tersebut  (Purnomo, 2013).
Keberadaan hewan akuatik seperti hewan bentos dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam pemantauan kualitas air sungai secara kontinyu, karena hewan bentos dapat menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut. Menurut  Soegianto (1990) Dalam memantau kualitas air sungai secara biologi, idealnya melibatkan seluruh komunitas (full community) yang melibatkan seluruh taksa yang ada pada tingkat tropik (tropic lavel) yang berbeda, namun hal ini sangat sulit dilakukan sehingga dalam prakteknya digunakan kelompok tunggal (single group) seperti makroinvertebrata bentik. Sedangkan penggunaan parameter fisika dan kimia hanya akan memberikan gambaran kualitas lingkungan sesaat dan cenderung memberikan interpretasi dan kisaran yang lebar (Firstyananda, 2011).
Cairns et al (1971) mengembangkan suatu metode yang sederhana, tetapi cukup bak untuk mengestimasi keanekaragaman biologis secara relatif, yang disebut” Squential Comparison Index” atau disingkat dengan S.C.I (Persoone & De Pauw, 1978). Indeks keanekaragaman ini dlam bahasa Indonesia disebut INdeks Perbandingan Sekuensial (I.P.S). Menurut ahli tersebut di atas bahwa indeks ini dapat memenuhi keprluan untuk menilai secara cepat akibat adanya pencemaran terhadap ekosistem, misalnya sungai, kolam danau, dan laut. Cara ini tidak memerlukan keterampilan untuk mengidentifikasi hewan-hewan dalam komunitas, sehingga dapat menghemat waktu dan pekerjaan (Umar, 2013).
Kestabilan ekosistem perairan berarti kemampuan ekosistem tersebut mempertahankan keseimbangannya dalam menghadapi perubahan atau guncangan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar.  Suatu ekosistem perairan dengan tingkat keseimbangan yang bersifat fluktuatif akan memberikan dampak yang cukup nyata bagi kehidupan yang berada di dalamnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi suatu tempat yang tidak kondusif bagi organisme yang hidup di dalam ekosistem perairan tersebut (Umar, 2010).


BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat
            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu botol sampel, eickman crab, ayakan, baskom, baki plastik, pinset.

III.2 Bahan
            Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu alkohol 70 %,  bentos dan udang.

III.3 Cara Kerja
            Ada beberapa prosedur yang dilakukan dalam percobaan ini, yaitu :
A.    Pengambilan Sampel Menggunakan Eickman Grab
1.        Kedua belahan pengeruk Eickman Grab di buka hingga terbuka lebar dan kaitkan kawat penahannya pada tempat kaitan yang terdapat pada bagian atas alat tersebut.
2.        Pengeruk di masukkan secara vertikal dan perlahan-lahan ke dalam air hingga menyentuh dasar perairan.
3.        Kemudian jatuhkan logam pembeban sepanjang tali pemegangnya sehingga kedua belahan Eickman Crab tertutup, dan lumpur serta hewan yang terdapat di dasar perairan akan terhimpun dalam kerukan.
4.        Eickman di tarik perlahan-lahan ke atas dan isinya ditumpahkan ke dalam baskom yang sudah disediakan.
5.       Sampah-sampah dari kerukan tersebut dibuang kemudian hewan bentos diseleksi dengan cermat dan memasukkan ke dalam botol sampel yang berisi alkohol 70%
6.      Pengambilan sampel dilakukan sekali lagi pada tempat yan berbeda
B.     Pengambilan Sampel Menggunakan Ayakan
1.        Pengambilan bentos dilakukan dengan ayakan.
2.        Ayakan dimasukkan sampai ke dalam dasar perairan.
3.        Angkat ayakan dan lumpur dipisahkan dengan bentos kemudian  masukkan bentos ke dalam botol.
4.        Pengambilan sampel dilakukan sekali lagi pada tempat yang berbeda
5.        Beri label pada masing-masing botol sampel dan diberikan alkohol 70%.

C.     Cara kerja di Laboratorium
1.        Ambillah sampel yang sudah diawetkan. Tumpahkan ke dalam wadah yang telah disediakan dan secara acak diambil satu per satu dengan pinset dan diletakkan pada wadah yang lain sambil diurutkan.
2.        Sampel yang diurutkan dibandingkan mulai dari angka A, B, C, D dan seterusnya, kemudian dilihat apakah sejenis atau tidak.
3.        Pengamatan dilakukan diatas meja. Jenis yang dianggap sama diberi kode yang sama dan ini berarti tergolong se”Run”. Hal ini dilakukan tidak peduli jenis apapun, asal serangkaian sampel tadi dianggap sama.
4.        Lakukan pengamatan sampai semua sampel habis, catat semua data dalam buku kerja, kemudian dilakukan perhitungan indeks keanekaragaman bentos.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 Hasil
IV. 1. 1 Data Hasil Pengamatan
a.        Hasil pengamatan bentos dengan menggunakan Eickman Grab
Tabel 1. Hasil pengamatan bentos dengan menggunakan Eickman Grab
Urutan Spesimen
AA B C A BBBBBB AA C BBB C B A B A BB A B A B AA BB A B D B A D A B A BBBB AAA BBBBBBBBBB A BBBB A BBBBBB AAA BBBBB A BBBB AA B A C A BBBBBB C B A B  D B D A C BBBB C BBBBB A BBBBB A BBBBBBBB C BB

b.      Hasil Pengamatan Bentos dengan Menggunakan Ayakan
Tabel 2. Hasil Pengamatan Bentos dengan Menggunakan Ayakan
Urutan Spesimen

A  B  C  D   A

c.       Derajat Pencemaran
Tabel 3. Derajat Pencemaran
Derajat Pencemaran   
Diversitas Komunitas (S.C.I)
Belum tercemar
Tercemar ringan
Tercemar sedang
Tercemar berat
> 2
2,0 - 1,6
1,5 - 1,0
< 1

IV. 2 Analisis Data
a.       Nilai Indeks Perbandingan Dengan Satuan (IPS) Eickman Grab
Dik :    spesimen          = 132
                        Jumlah run       = 64
                                                 Jumlah taksa   =  4
IPS      =
            =
          = 1,939 (Tercemar ringan)
Jadi, Nilai indeks perbandingan sekuensial menggunakan eickman grab yaitu 1, 939 yang menunjukkan bahwa perairan tersebut tercemar ringan.
b.      Nilai Indeks Perbandingan Dengan Satuan (IPS) Eickman Grab
Dik :    Jumlah spesimen           = 5
            Jumlah Run                 = 5
                        Jumlah Taksa               =  4
IPS      =    
            =
          = 4 (Belum tercemar)
Jadi, Nilai indeks perbandingan sekuensial menggunakan ayakan yaitu 4 yang menunjukkan bahwa perairan tersebut belum tercemar.

IV.3 Pembahasan
      Pada percobaan keanekaragaman bentos, kami menggunakan 2 alat yaitu Eickman grab dan ayakan. Pengambilan sampel untuk kedua alat dilakukan masing-masing sebanyak 2 kali. Pada penggunaan alat Eickman grab, cukup dengan mengaitkan bagian pengait pada bagian atas Eickman grab. Lalu mengangkat  beban agar tidak menyentuh bagian atas Eickman grab, selanjutnya Eickman grab di turunkan secara vertikal ke dalam air hingga bagian bawahnya menyentuh dasar perairan. Tunggu beberapa saat hingga terasa cukup lalu lepaskan beban, maka akan secara otomatis mulut Eickman grab akan tertutup dan mengeruk organisme-organisme beserta lumpur, selanjutnya angkat Eickman grab.
      Pada penggunaan ayakan atau mess, kita hanya mengeruk tanah dari dasar perairan dengan menyelam. Lalu mengangkat ayakan dan membersihkannya dari lumpur ( di ayak) kemudian menghitung organisme-organisme yang tersaring.
           Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa pengambilan sampel dengan menggunakan Eickman grab (di sekitr danau Unhas) memiliki indeks perbandingan sekuensial sebesar 1,939. Hal ini menunjukkan bahwa pada daerah pengambilan sampel tergolong tercemar ringan, sedangkan indeks perbandingan sekuensial dengan pengambilan sampel menggunakan ayakan yaitu sebesar 4. Hal ini menunjukkan bahwa pada daerah pengambilan sampel tergolong belum tercemar. Terdapat perbedaan nilai IPS dengan menggunakan ayakan dan eickman grab disebabkan karena pada pengambilan menggunakan ayakan dilakukan pada tepi danau, sedangkan pengambilan sampel menggunakan eickman grab dilakukan di tengah-tengah danau.
Bentos yang ada di dasar perairan dapat dijadikan sebagai indikator pencemaran. Semakin banyak bentos yang hidup di dasar perairan, berarti tingkat pencemarannya juga semakin rendah. Bentos sering dijadikan uji parameter terhadap permasalahan lingkungan seperti pencemaran, sebab jenis biota laut tersebut hidup di dasar laut dan cenderung sangat lambat pergerakannya dibandingkan jenis lainnya seperti ikan. Disamping itu bentos sangat sensitif dan peka terhadap suatu perubahan dalam air.













BAB V
PENUTUP
V.I Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan yaitu
1.    Nilai Indeks Perbandingan Sekuensial yang menggunakan Eickman grab ialah 1,939 dengan tingkat pencemaran ringan. Sedangkan dengan menggunakan ayakan memiliki nilai IPS ialah 4 dengan tingkat pencemaran yang belum tercemar.
2.     Percobaan ini menggunakan dua jenis alat yaitu, ayakan (mess) dan Eickman grab.

V. 2 Saran

Sebaiknya dalam pengambilan sampel alat yang digunakan diperbanyak lagi sehingga tidak saling menunggu untuk menggunakan alat, terutama alat Eickman grab.







DAFTAR PUSTAKA
Awaluddin, 1999. Pola Penyebaran Makrozoobenthos Kelas Pelecypoda dan        Gastropoda     pada Pantai Abrasi dan Akresi di Pantai Barat Pulau       Selayar, Sulawesi Selatan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Firstyananda, Prima,  2011. Komposisi dan Keanekaragaman Makrozoobentos  di Tiga     Lokasi Aliran Sungai Sumber Kuluhan  Jabung,  Kabupaten           Magetan. Universitas Airlangga,  Surabaya.

Odum,  E. P., 1994. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Gadjah Mada University   Press,   Yogyakarta.

Purnomo, Tarzan, 2013. Kualitas Perairan Estuari Porong Sidoarjo Jawa Timur    Berdasarkan Indeks Keanekaragaman Makrozoobentos. LenteraBio. 2(1).           81–85. Lipi, Bogor.

Rahma, Yulia, 2006. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Makrozoobentos di      Hutan Mangrove Hasil Rehabilitas Taman Hutan Raya Ngurah Rai Bali.       Biodiversitas. 7(1). 67-72. Lipi, Bogor..

Setiadi, D, 1989. Dasar-dasar Ekologi. Pusat Antar Ilmu Hayat, Institut Pertanian            Bogor.

Soegianto, Agoes, 2004. Metode pendugaan pencemaran perairan dengan             indikator biologis. Airlangga University Press, Surabaya.

Umar, M. R., 2010. Ekologi Umum. Universitas Hasanuddin,  Makassar.

Umar, M. R., 2013. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas Hasanuddin, Makassar.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar