Rabu, 29 Mei 2013

KELEMBABAN RELATIF UDARA PADA TEMPAT BERBEDA


LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN II
KELEMBABAN RELATIF UDARA PADA TEMPAT BERBEDA
NAMA                       : NUR SAKINAH
NIM                            : H41112293
KELOMPOK            : 1 (SATU) B
HARI/TANGGAL    : SELASA/ 02 APRIL  2013
ASISTEN                   : SUWARDI
                                      NURUL QALBY  




LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam kehidupan di bumi ini kelembaban udara merupakan salah satu unsur penting bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Kelembaban udara juga menentukan bagaimana makhluk tersebut dapat beradaptasi dengan kelembaban yang ada di lingkungan (Lakitan, 1994). 
  Dalam atmosfer senantiasa terdapat uap air. Kadar uap air dalam udara disebut kelembaban. Kadar ini selalu berubah-ubah tergantung pada temperatur udara setempat. Kelembaban udara adalah persentase kandungan uap air dalam udara. Kelembaban udara ditentukan  oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam udara. Total  massa uap air per satuan volume udara disebut sebagai kelembaban absolut. Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik. Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung, termasuk uap air, jika massa uap air tidak diikutkan, maka disebut sebagai massa udara kering (Lakitan, 1994). 
Kelembaban udara biasanya digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan perkembangan  tumbuhan budidaya. Dengan mengetahui kelembaban udara yang ada di lingkungan tempat yang akan di tanam tumbuhan, kita dapat menentukkan pemilihan jenis tanaman yang sesuai, misalnya tanaman bakau  yang ditanam pada daerah yang berkelembaban tinggi, bakau tersebut akan berkembang dan berproduktifitas dengan maksimal, sebaliknya jika bakau tersebut di tanam pada daerah yang mempunyai kelembaban yang rendah maka bakau tersebut tidak akan berproduktifitas dan berkembang secara maksimal (Michael, 1994).
Kelembaban merupakan salah satu faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap aktifitas organisme di alam. Kelembaban merupakan jumlah uap air di udara (Umar, 2013). Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana perbedaan kelembaban relative udara pada tempat/lokasi,  maka dilakukanlah percobaan mengenai Kelembaban relatif udara pada tembat berbeda.

1.2    Tujuan Praktikum
Tujuan dari percobaan ini yaitu:
1.        Untuk mengetahui perbedaan kelembaban relatif udara pada tempat/ lokasi yang berbeda dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
2.        Untuk melatih keterampilan mahasiswa dalam membaca dan mengoperasikan peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban udara relatif.

1.3    Waktu dan Tempat Praktikum
     Percobaan mengenai Kelembaban Relatif Udara Pada Tempat Yang Berbeda dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 02 Maret 201, Pukul 15.00 – 17.30 WITA, yang bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Dan pengambilan data dilakukan, di dalam ruangan di Canopy dan Pelataran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Makassar.

BAB  II
TINJAUAN PUSTAKA
Kelembaban adalah faktor ekologis yang penting mempengaruhi aktifitas organisme dan membatasi penyebarannya dengan keragaman harian, serta keragaman tegak dan mendatar. Kandungan uap air itu sendiri atau bersama-sama dengan suhu merupakan faktor yang sangat penting yang mempengaruhi ekologi mahluk-mahluk hidup daratan. Untuk mahluk-mahluk hidup darat, kandungan uap air harus dianggap sebagai kelembaban dalam astmosfir, air tanah untuk tanaman dan air minum untuk hewan-hewan. Banyak hewan-hewan darat seperti moluska, amfibia, isopoda, nematoda, sejumlah serangga dan antropoda lainnya di temukan hanya pada habitat-habitat atmosfernya jenuh dengan uap air (Michael, 1994).
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volum. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air (Umar, 2013).
Kelembaban nisbi pada suatu tempat tergantung pada suhu yang menentukan kapasitas udara untuk menampung uap air serta kandungan uap air aktual di tempat tersebut. Kandungan uap air yang aktual ini ditentukan oleh ketersediaan air tempat tersebut serta energi untuk menguapkannya. Jika daerah tersebut basah dan panas seperti daerah-daerah di kalimantan, maka penguap akan tinggi yang berakibat pada kelembaban mutlak serta kelembaban nisbi yang tinngi. Sedangkan daerah pegunungan di Indonesia umumnya mempunyai kelembaban nisbi yang tinggi karena suhunya rendah sehingga kapasitas udara untuk menampung uap air relatif kecil (Umar, 2013).
     Jumlah uap air yang ada dalam udara diacu sebagai kelembaban. Bobot sebenarnya uap air yang ada dalam satuan bobot udara dinyatakan sebagai kelembaban mutlak. Karena suhu dan tekanan mempengaruhi kelembaban, maka biasanya diukur sebagai kelembaban relatif. Kelembaban relatif adalah persentase uap air sebenarnya ada dibandingkan dengan kadar kejenuhan dalam suhu dan tekanan yang sedang ada (Michael, 1994).
     Temperatur dan kelembaban umumnya penting dalam lingkungan daratan dan demikian eratnya berhubungan sehingga diakui sebagai bagian yang paling penting dari iklim. Interaksi antara temperatur dengan kelembaban, seperti pada kasus interaksi kebanyakan faktor, tergantung pada nilai nisbi dan juga nilai mutlak setiap faktor. Sehingga temperatur memberikan efek membatasinya lebih hebat lagi terhadap organisme apabila keadaan kelembaban adalah ekstrim, yakni apakah keadaan tadi sangat tinggi atau sangat rendah, daripada keadaan itu adalah sedang-sedang saja. Demikian juga, kelembaban memainkan peranan yang lebih gawat dalam keadaan temperature ekstrim. Dengan kata lain, hal ini adalah aspek laindari asas mengenai factor interaksi (Odum, 1994).
Pada ekosistem, faktor-faktor tidak bekerja sendiri-sendiri akan tetapi bekerja bersama-sama. Temperatur dan kelembaban sangat berpengaruh pada lingkungan darat. Efek pembatas dari temperature bertambah hebat apabila kelembaban dalam keadaan ekstrim, yaitu tinggi maupun rendah interaksi antara temperature dan kelembaban seperti interaksi pada faktor lain yaitu tergantung kepada nilai nisbi dan nilai mutlak dari setiap faktor. Di alam organisme tidak hanya beradaptasi terhadap lingkungan fisik dalam arti tolenrasi saja, akan tetapi juga memamfaatkan periodesitas alami untuk mengatur kegiatan dan memprogram kehidupannya. Misalnya di daratan iklim sedang, kegiatan organisme disesuaikan dengan panjang hari (Soegiarto, 1990).
Kelembaban udara dalam ruangan tertutup dapat diatur sesuai dengan keinginan. Pengaturan kelembaban udara ini didasarkankan atas prinsip kesetaraan potensi air antara udara dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruangan tertutup dimasukkan larutan, maka air dalam larutan tersebut akan menguap sampai terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi larutan. Demikian pula halnya jika hidrat Kristal garam-garam tertentu dimasukkan dalam ruang tertutup, maka air dari hidrat Kristal garam akan menguap sampai terjadi keseimbangan potensi air (Lakitan, 1994).
Tinggi rendahnya kelembaban udara di suatu tempat sangat bergantung pada beberapa faktor (Umar, 2013) yaitu:
a.   Suhu
b.   Tekanan udara
c.    Pergerakan angin
d.    Kuantitas dan kualitas penyinaran
e.    Vegetasi
f.    Ketersediaan air di suatu tempat (air, tanah, perairan).
              Irama harian kelembaban sangat bervariasi, terkadang tinggi pada malam hari dan rendah pada siang hari dan sebaliknya. Irama harian kelembaban ini juga dapat disebabkan karena perbedaan letak tempat baik secara horizontal maupun vertikal. Pengaruh kelembaban udara sejalan dengan temperatur dan intensitas   udara serta sinar matahari yang mempunyai peranan pemting dalam mengatur aktifitas organisme dan dalam membatasi penyebarannya (Umar, 2013).
              Kelembaban adalah jumlah uap air yang terkandung dalam udara. Istilah kelembaban biasanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari berupa kelembaban relatif (Buck, 1970). Data klimatologi untuk kelembaban udara yang umum dilaporkan adalah kelembaban relatif (relative humidity, disingkat RH). Kelembaban relatif adalah perbandingan antara tekanan uap air aktual (yang terukur) dengan tekanan uap air pada kondisi jenuh (Lakitan, 1994).
              Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30o C (86o F), dan tidak melebihi 0,5% pada 0o C (32o F). Kelembaban absolut mendefenisikan massa uap air pada volume tertentu campuran udara atau gas, dan umumya dilaporka dalam gram per meter kubik. Kelembaban relatif (RH) dan suhu udara merupakan salah satu parameter yang penting dalam pengukuran meteorologi. Pengukuran kelembaban relatif (RH) secara kontinyu dan kemudahan dalam  perawatan diperlukan dalam bidang perikanan dan kelautan, antara lain: perekam data RH lingkungan pantai dan lepas pantai secara in situ, manajemen cold storage untuk hasil perikanan tangkap, pengukuran dalam Hazard Analysis Critical Control Point(HACCP), analisis penyimpanan dalam kontainer, dan dengan kandungan air di dalam udara. Udara dikatakan mempunyai kelembaban yang tinggi apabila uap air yang diakandungnya tinggi, begitu juga sebaliknya. Secara matematis, kelembaban dihubungkan sebagai rasio berat uap air di dalam suatu volume udara dibandingkan dengan berat udara kering (udara tanpa uap air) di dalam volume yang sama (Odum, 1994).
Faktor suhu / temperatur dan kelembaban seperti pada kasus interaksi kebanyakan faktor, tergantung pada nilai nisbi dan juga nilai mutlak setiap faktor. Jadi, suhu atau temperatur memberikan efek membatasinya lebih hebat lagi terhadap organisme apabila keadaan kelembaban adalah ekstrim yakni, apakah keadaan tadi sangat tinggi atau sangat rendah, daripada apabila keadaan demikian itu adalah sedang saja (Odum, 1994).
Beberapa prinsip yang umum digunakan dalam pengukuran kelembaban udara yaitu metode pertambahan panjang dan berat pada benda-benda higroskopis, serta metode termodinamika. Alat pengukur kelembaban udara secara umum disebut hygrometer sedangkan yang menggunakan metode termodinamika disebut psikrometer (Kartasapoetra, 1990).










BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III. 1 Alat
Alat yang digunakan adalah  Termometer, sling psychrometer, botol air/ hand sprayer, dan karet gelang.
III. 2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah  kapas, dan air.
III. 3 Cara Kerja
Adapun cara kerja pada percobaan ini yaitu:
1.         Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan di siapkan
2.        Diambil satu alat Sling Psychrometer, kemudian termometer kering dan basah ditarik keluar dari kotak skala pada alat tersebut.
3.        Sumbu pada kotak/tempat pembahasan dengan ujung termometer basah di sambung.
4.        Dibasahi sumbu tersebut dengan air secukupnya, kemudian ditutup kotaknya.
5.        Diayunkan thermometer basah dan kering dengan cara diputar-putar di udara seperti baling-baling.
6.        Dilakukan pengamatan/pembacaan setiap 5 menit pengayunan pada thermometer basah dan kering, jumlah pengamatan sebanyak 3 kali dengan interval waktu setiap pengamatan 2 menit.
7.         Dibuat tabel hasil pengamatan pada setiap lokasi pengamatan yang berbeda.
8.         Untuk pembacaan kelembaban udara relatif dapat di lakukan berdasarkan hasil pembacaan skala thermometer basah dan kering yang didempetkan pada skala yang terdapat pada Sling Psychrometer.











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Tabel 1.  hasil pengamatan menggunakan Sling Physometer
Tempat
Sling Physometer
Basah (0C)
Kering (0C)
RH %
Dalam ruangan (LBD)
28
30,3
71
29
31
87
28,5
32
73
Rata-rata
28,5
31,3
77
Di bawah pohon (Canopy)
33
33
100
32
32
100
Rata-rata
32,5
32,5
100
Pelataran MIPA
14
30
29
27
28
94
26
26
100
Rata-rata
25
27
91

IV. 2 Pembahasan
            Pada percobaan kelembaban udara dilakukan pada tiga tempat berbeda yaitu dalam ruangan (Laboratorium Biologi Dasar), di lapangan terbuka (pelataran MIPA), dan di bawah pohon (Canopy). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan sling psychrometer. Dan setiap alat dibagi atas yang basah dan kering. Pengukuran menggunakan alat ini untuk membandingkan apakah hasil pengukuran kelembaban relatif udara pada tempat yang berbeda sama atau berbeda. Sling psychrometer di gunakan dengan dengan cara diputar-putar selama 3 menit lalu didiamkan selama 2 menit kemudian diputar-putar lagi selama 3 menit sampai tiga kali percobaan. Setelah 3 kali, data ditulis dan dihitung rata-ratanya.
            Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil yang berbeda-beda pada setiap tempat, yaitu sebagai berikut :
1.        Dalam Ruang Laboratorium
Kelembaban relatif udara yang diperoleh pada percobaan di dalam laboratorium sangat tinggi yaitu 77% pada sling psychrometer. Hal ini dimungkinkan karena dalam ruangan tersebut tertutup sehingga terjadi sedikit penguapan, tidak ada pergerakan angin dan dalam ruangan juga terdapat kipas angin, kondisi dalam ruangan relatif tetap sehingga dalam udara terkandung banyak uap air.
2.        Di Bawah Pohon (Canopy)
Kelembaban relatif udara yang diperoleh pada percobaan di bawah pohon pada pembacaan  sling psychrometer 92,3%. Kelembaban pada daerah ini cukup tinggi dikarenakan banyaknya vegetasi pada areal tersebut, kondisi tanah yang becek dan mengandung banyak air, serta penyinaran matahari yang terhalangi oleh pohon.
3.        Di Lapangan Terbuka (pelataran MIPA)
Kelembaban relatif udara yang diperoleh pada percobaan di lapangan terbuka pada sling psychrometer 21%. Nilai yang diperoleh pada pembacaan termometer sangat rendah. Hal  ini disebabkan oleh faktor penyinaran matahari  dan cuaca saat pengukuran. Karena semakin tinggi suhu, semakin rendah tingkat kelembaban.
Berdasarkan hasil analisis data, dapat di ketahui bahwa tempat dengan kelembaban tertinggi yaitu di bawah poho (canopy) yaitu 92,3 %. Hal ini dipengaruhi oleh vegetasi yang berada di tempat tersebut seperti yang kita ketahui bahwa jumlah vegetasi di suatu tempat juga mempengaruhi tingkat kelembaban di tempat tersebut. Seperti yang diketahui bahwa di canopy didominasi oleh pohon-pohon dengan daun yang lebar dan lebat sehingga menghalangi proses masuknya sinar matahari sehingga tingkat penyinaran yang diterima oleh tempat tersebut juga kurang sehingga kelembaban di tempat tersebut cukup tinggi.








BAB  V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.     Terdapat perbedaan kelembaban relatif pada tiga tempat pengukuran kelembaban. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan kelembaban relatif pada lokasi berbeda ialah kualitas penyinaran matahari, vegetasi, pergerakan angin, suhu, dan ketersediaan air.
2.        Alat yang digunakan dalam percobaan adalah sling psychrometer dengan cara diputar-putar diudara.

V.2 Saran
 Setelah melakukan percobaan ini, maka saya sarankan sebaiknya pihak laboratorium mengganti alat-alat laboratorium yang telah rusak dan menambah alat-alat yang akan digunakan agar pelaksanaan praktikum lebih efektif.





DAFTAR PUSTAKA
Kartaspoetra, Gunarsih Ance, 1990. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah             dan Tanaman. Bumi Aksara, Jakarta.

Lakitan, B., 1994. Dasar Klimatologi. PT Ragagrafindo Persada, Jakarta.

Michael, 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang Dan Laboratorium.     Universitas Indonesia,  Jakarta.

Odum, Eugene, 1994. Dasar-Dasar Ekologi. Universitas Gadjah Mada,     Yogyakarta.

Soegiarto, 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Umar, M. R., 2013. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas          Hasanuddin, Makassar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar