Jumat, 07 Juni 2013

PEWARISAN KUANTITATIF


LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA

PERCOBAAN II
PEWARISAN KUANTITATIF

NAMA                             : NUR SAKINAH
NIM                                 : H41112293
HARI/TANGGAL         : KAMIS/14 MARET 2013
KELOMPOK                 : III ( TIGA)
ASISTEN                                    : JULIAR NUR


LABORATORIUM GENETIKA
JURUSUAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Biasanya kita beranggapan bahwa suatu kelas fenotip itu selalu mudah dibedakan dari kelas fenotip yang lain. Akan tetapi  bila diperhatikan dengan baik, dalam kenyataannya kelas fenotip tadi tidak dapat dibedakan semudah itu,  dikarenakan seringkali masih masih dapat diketahui adanya beberapa variasi di dalam suatu kelas fenotip. Penyelidikan mengatakan bahwa timbulnya berbagai variasi di dalam suatu kelas fenotip  itudisebabkan karena pengaruh gen-gen ganda (poligen atau multipel gen) (Suryo,1984).
Pada tahun  1760, kolreuter melakukan suatu percobaan  dengan menggunakan tanaman tembakau (Nicotiana tabacum). Dengan membandingkan percobaan kolreuter dan mendel maka dapat ditarik kesimpulan adanya perbedaan yaitu bahwa sifat keturunan yang dikemukakan kolreuter itu ditinjau  secara kuantitatif, artinya sifat keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Sedangkan Mendel meninjau sifat keturunan secara kualitatif, yang artinya sifat keturunan itu tammpak ataukah tidak. Oleh sebab itu  untuk menjelaskan perbedaan antara genetika kuantitatif dan genetika kualitatif  maka dilakukan percobaan  mengenai pewarisan kuantitatif (Suryo, 1984).
1.2  Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1.      Menjelaskan perbedaan antara genetika kuantitatif dan genetika kualitatif
2.      Mengetahui cara pengumpulan, menganalisis dan menafsirkan data penelitian tentang pewarisan kuantitatif.
1.3  Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada pukul 15.00-18.10 WITA, tanggal 14 Maret 2013 di Laboratorium Biologi Dasar Lantai 1, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.


















BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
    Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu Alat tulis menulis, kuas dan wadah cat air.
III.1.2 Bahan
    Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu koin Rp.500, cat  air dan kertas A4 dan air.
III.2 Cara kerja
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Siapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan
2.      ambil kertas, koin dan pensil, lalu gambar lingkaran diatas kertas tersebut dengan menggunakan koin dan pensil sebanyak 14 lingkaran ( 2 lingkaran untuk parental 1, 1 lingkaran untuk keturunan F1, 2 lingkaran perkawinan antara F1 * F1, dan terakhir 9 lingkaran sebagai hasil keturunan F2).
3.      Untuk kesembilan lingkaran tersebut, diberi nomor secara berurutan mulai dari 1 sampai 9.
4.      Ambil cat air warna hitam dan putih, beri warna pada masing-masing lingkaran betina untuk warna putih dan jantan untuk warna hitam serta pada lingkaran 1  warna putih dan lingkaran 9 hitam.
5.      Campurkan kedua warna, aduk dengan kuas hingga merata, olesi warna tersebut pada keturunan yang dihasilkan di F1 dan pada kolom ke-5.
6.      Untuk ke-9 lingkaran   tadi,     lingkaran   1,    5   dan   9 telah diberi warna
(masing-masing putih, abu-abu dan hitam).    Untuk  lingkaran 2, 3, 4, 6, 7,
 dan 8, akan dilakukan percampuran warna sebagai berikut :
a.    Untuk lingkaran ke-3, warnanya didapatkan dari campuran antara lingkaran
ke-1 dan lingkaran ke-5 (putih dan abu-abu) dalam wadah yang lain. Untuk lingkaran ke-2, campuran warnanya antara lingkaran ke 1 dan ke 3 dalam wadah yang lain juga. Begitu pun seterusnya, untuk lingkaran yang berikut.
b.    Lingkaran ke-3 dan lingkaran ke-5 hasilnya untuk lingkaran ke-4.
c.    Lingkaran ke-5 dan ke-9 hasilnya adalah untuk lingkaran ke-7.
d.   Lingkaran ke-5 dan ke-7 hasilnya adalah untuk lingkaran ke 6.
e.    Lingkaran ke-7 dan ke-9 hasilnya adalah untuk lingkaran ke-8.
7.      Masing-masing warna yang telah dicampurkan, hasilnya diberikan ke lingkaran yang telah ditentukan di atas.

     










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mendel mempelajari karakter-karakter yang biasa digolongkansebagai ini-atau-itu misalnya warna bunga ungu atau putih.Akan tetapi untuk banyak karakter, misalnya warna kulit dan tinggi manusia klasifikasi ini-atau-itu mustahil karena karakter tersebut bervariasi dalam populasi sepanjang suatu kontinum atau kesinambungan (bergradasi).Karakter semacam ini disebut karakter kuantitatif (Campbell, dkk, 2010). Salah satu dari kekeliruan dari kegagalan Mendel berasal dari studi tentang pewarisan sifat-sifat yang secara kuantitatif berbeda-beda dengan cara yang kualitatif yang mudah dikenal dan nyata. Namun manusia tidak ada yang tinggi atau pendek, tidak pula berat atau ringan.Banyak sifat berlainan secara kuantitatif yang berlanjut di seluruh populasi (Kimball, dkk., 1983).
Pada tahun 1908 informasi mengenai pewarisan kuantitatif memberikan pemecahan masalah atas pewarisan sifat tersebut. Ahli genetika asal Swedia Nielsen Ehle, menelaah pewarisan warna biji gandum. Dengan menggunakan metode Mendel, ia menyilangkan galur-galur biji-merah tangkar-murni dengan galur-galur tangkar murni. Keturunannya semua merah, tetapi intensitas warnannya jauh lebih tipis dibandingkan dengan tetua merah (Kimball, dkk., 1983).
Biasanya kita beranggapan bahwa suatu kelas fenotip itu selalu mudah dibedakan dari kelas fenotip yang lain. Misalnya, bunga suatu tanaman ada yang merah dan ada yang putih, warna kulit orang ada yang hitam dan ada yang putih, tubuh orang ada yang tinggi dan ada yang pendek.Akan tetapi bila diperhatikan dengan baik, dalam kenyataannya kelas fenotip tadi tidak dapat dibedakan semudah itu.Sebabnya karena seringkali masih dapat diketahui adanya beberapa variasi didalam suatu kelas fenotip. Misalnya saja, bunga merah muda.Kulit hitam pada orang ada yang hitam sekali, hitam biasa, sawo matang.Tubuh orang ada yang tinggi sekali, tinggi, sedang (Suryo, 1984).
Pada pewarisan sifat, kita dapat menemukan adanya variasi sifat yang diturunkan. Hal ini disebabkan oleh gen ganda (multiple gen / poligen). Poligen merupakan suatu seri gen ganda yang menentukan sifat secara kuantitatif. Dalam hal ini, pewarisan sifat dikendalikan oleh lebih dari satu gen pada lokus yang berbeda dalam kromosom yang sama atau berlainan. Pewarisan sifat yang dikendalikan oleh poligen tersebut pertama kali ditemukan pada tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) oleh J. Kolreuter (1760). Saat menyilangkan tanaman dengan dua sifat beda, keturunan yang didapat pada F1 adalah intermediet, sedangkan F2 terdapat banyak variasi antara kedua tanaman induknya. Sifat keturunan terlihat berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu (Angitasari dan Atikasari, 2010).
Perbedaan percobaan mendel dan Kolreuter mengenai sifat suatu keturunan yaitu  (Suryo,1984):
Kolreuter  = Pada waktu menyilangkan dua tanaman dengan memperlihatkan satu     bedasifat di dapatkan tanaman F1 yang semuanya intermedier, sedangkan                       F2 berupa tanaman yang memperlihatkan banyak  variasi antara kedua            tanaman induknya.
Mendel       = Pada waktu menyilangkan dua tanaman dengan memperlihatkan satu             bedasifat didapatkan tanaman F1 yang semuanya memiliki sifat  dominan,   sedangkan dalam F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan fenotipe 3 : 1
            Jelaslah perbedaannya, yaitu bahwa sifat keturunan yang dikemukakan oleh Kolreuter itu di tinjau secara kuantitatip, artinya sifat keturunan tampak berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu. Sedangkan Mendel meninjau sifat keturunan  secara kualitatif, yaitu sifat keturunan itu tampak ataukah tidak.
           Karakter – karakter tanaman dapat berupa karakter kualitatif atau kuantitatif. Menurut Nasir (2001) karakter kualitatif merupakan wujud fenotipe yang saling berbeda tajam antara satu dengan yang lain secara kualitatif dan masing-masing dapat dikelompokkan dalam bentuk kategori. Karakter ini dikendalikan oleh sedikit gen. Sementara itu karakter kuantitatif dikendalikan oleh banyak gen. Karakter ini biasanya banyak dipengaruhi lingkungan.  2 Pola pewarisan masing-masing karakter diperlukan dalam menentukan strategi pemuliaan tanaman (Dzikri, 2008).
            Menurut Campbell (2008) Variasi kuantitatif biasanya mengidentifikasi pewarisan sigat poligenik, efek adiktif dari dua gen  atau lebih pada satu karakter fenotipik tunggal (kebalikan dari pleiotropi, yaitu satu gen memengaruhi beberapa karakter fenotipik. Adapun Perbedaan mendasar antara sifat kualitatif dan kuantitatif yaitu, jika sifat kuantitatif ditentukan oleh banyaknya gen (10 sampai lebih 100), disebut  poligen, yang semuanya memberikan efek kumulatif terhadap pembentukan suatu fenotip. Perbedaan lainnya yaitu sifat kuantitatif sifatnya berupa spektrum, variasi berkesinambungan, berkenaan dengan perkawinan populasi, dan dilakukan analisis statistiik. Sedangkan sifat kualitatif sifatnya berupa jenis, variasitidak berkesinambungan, dapat dikategorikan dalam kelas, berkenaan dengan perkawinan individu dan dianalisa dengan menghitung,   ( rosana dan sjafaraenan, 2013).
Beberapa contoh sifat keturunan pada manusia yang diwariskan lewat poligen yaitu (Suryo, 1984) :
1.        Perbedaan Pigmentasi Kulit
Davenport menemukan pengaruh poligen pada pigmentasi kulit manusia yang memperlihatkan variasi kuantitatip antara warna muda sampai hitam-arang. Mereka membedakan 5 derajat warna yaitu dari 0 sampai dengan 4. Pigmentasi kulit itu ditentukan oleh dua pasang gen (misalnya A dan B), yang dominan terhadap masing-masing alelnya a dan b. Akan tetapi penilaian oleh Curt Stern dan kawan-kawan menyatakan bahwa empat pasang gen itu terlalu sedikit intuk menentukan perbadaan warna kulit pada manusia. Mereka berpendapat bahwa empat pasang gen adalah lebih sesuai.
2.        Perbedaan Tinggi Tubuh
Menurut penyelidikan ada 4 pasang gen yang ikut mempengaruhi tinggi tubuh orang. Akan tetapi disini dapat dibedakan adanya gen-gen dasar (ialah gen-gen yang memberi tambahan pada tinggi dasar). Gen-gen dasar di nyatakan dengan simbol a, b, c, d. Gen-gen ganda dinyatakan dengan simbol T (untuk tinggi) dan t (untuk rendah).
3.        Sidik Jari
Sidik jari orang merupakan contoh yang indah untuk mengetahui peranan poligen. Berdasarkan sistem Galton, dapat dibedakan 3 pola dasar dari bentuk sidik jari yaitu bentuk lengkung atau arch, bentuk sosok atau loop,  dan bentuk lingkaran atau whorl. Jumlah rigi dari sidik jari seseorang akan tetap pada waktu kira-kira minggu ke duabelas setelah konsepsi dan tidak akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Klasifikasi dari bentuk sidik jari tersebut didasarkan atas banyaknya triradius, yaitu titik-titik dari mana rigi-rigi menuju ketiga arah dengan sudut kira-kira 1200. Duabuah triradius terdapat pada bentuk lingkaran, sedangkan bentuk  sosok memiliki sebuah triradius. Jika bagian yang terbuka dari bentuk sosok dinamakan sosok radial. Tetapi jika bagian yang terbuka itu menuju ke pangkal jari, maka bentuk sosok disebut sosok ulnar.
            Deaton melaporkan bahwa pola sidik jari tangan, telapak tangan dan telapak kaki mempunyai hubungan erat dengan berbagai macam penyakit keturunan atau cacat karena kelainan kromosom, misalnya pada pendertia sindrom down. Penderita sindrom down mempunyai garis pada telapak tangan seperti kepunyaan kera dan banyak yang memiliki sidik jari bentuk lingkaran atau sosok ulnar.
4.        Bibir sumbing dan Celah langit-langit
Kelainan ini disebabkan oleh poligen. Di Amerika Serikat terdapat seorang diantaranya 750 sampai 1000 kelahiran yang memiliki kelainan ini.
5.        Warna Mata Manusia
Apabila mata manusia diperhatikan dengan baik,nampak jelas bahwa warnanya berbeda-beda tergantung dari pengandungan pigmen melanin didalam iris. Kecuali pada orang albino yang tidakmemiliki pigmen melanin. Meskipun menurunnya warna mata sangat kompleks namun menurut Davenport (1913) dapatmembedakan 5 kelas fenotipe. Hughes (1944) bahkan dapat mengenal 7 kelas fenotip. Apabila kita berpedoman pada aturan bahwa banyaknya kelas fenotip ialah satu lebih banyak dari dua kali jumlah pasangan poligen, maka 9 kelas fenotip dapat dibedakan sebagaihasil dari berperannya 4 pasang gen.
6.        Hidrosefali
Hidrosefali, yaitu membesarnya kepala karena berisi cairan, tidak selalu genetis. Akan tetapi ada salah satu tipe penyakit hidrosefali yang disebabkan oleh poligen. Sebelum atau segera setelah anak lahir, cairan serebrospinal menggumpal dalam tengkorak dan menyebabkan  kepala menjadi membesar. Biasanya disertai dengan cacat mental dan kebanyakan hidupnya tidak lama.
7.        Diabetes, tekanan darah tinggi, beberapa penyakit jantung, dan intelegensia
Penyakit ini pun di duga disebabkan oleh poligen.






                 







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
P                      =  G1G1G2G2G3G3G4G4><g1g1g2g2g3g3g4g4
                                                                (hitam) ><        (putih)
F1                    =                      G1g1G2g2G3g3G4g4
(abu – abu)
F1 >< F1         =  G1g1G2g2G3g3G4g><        G1g1G2g2G3g3G4g4
F2                    =
                                                            1 G4G4 = G1G1G2G2G3G3G4G4       = 1 (8G)
                                    1G3G3              2 G4g4  = G1G1G2G2G3G3G4g4      = 2 (7G)
1 g4g4   = G1G1G2G2G3G3g4g4       = 1 (6G)
                                                            1 G4G4 = G1G1G2G2G3g3G4G4      = 2 (7G)
             G2G2               2 G3g            2 G4g4 = G1G1G2G2G3g3G4g4          = 4 (6G)                                                                1 g4g4 = G1G1G2G2G3g3g4g4              = 2 (5G)
                                                            1 G4G4= G1G1G2G2g3g3G4G4       =1  (6G)
                                    1 g3g3                   2 G4g4 = G1G1G2G2g3g3G4g4        =2  (5G)
                                                            1 g4g4 = G1G1G2G2g3g3g4g4          =1  (4G)
                                                            1 G4G4 = G1G1G2g2G3G3G4G4     = 2 (7G)                                         1 G3G3                 2 G4g4 = G1G1G2g2g3g3G4g4       = 4 (4G)
                                                            1 g4g4 = G1G1G2g2G3G3g4g4         = 2 (5G)
                                                            1 G4G4 = G1G1G2g2G3g3G4G4     = 4 (6G)
1G1G  2G2g2            2 G3g3                  2 G4g4 = G1G1G2g2G3g3G4g4        = 8 (5G)
                                                            1 g4g4 = G1G1G2g2G3g3g4g4           = 4 (4G)
                                                            1 G4G4 = G1G1G2g2g3g3G4G4       = 2 (5G)
                                    1 g3g3                   2 G4g4 = G1G1G2g2g3g3G4g4          = 4 (4G)
                                                            1 g4g4 = G1G1G2g2g3g3g4g4          =2 (3G)                                                                   1 G4G4 = G1G1g2g2G3G3G4G4 = 1 (6G)                                              1 G3G3                 2 G4g4 = G1G1g2g2G3G3G4g4        = 2 (5G)
                                                            1 g4g4 = G1G1g2g2G3G3g4g4         = 1 (4G)                                                                  1 G4G4 = G1G1g2g2G3g3G4G4 = 2 (5G)                       1 g2g2                   2 G3g3                  2 G4g4 = G1G1g2g2G3g3G4g4         = 4 (4G)                                                                                          1 g4g4 = G1G1g2g2G3g3g4g4            = 2 (3G)
                                                            1 G4G4 = G1G1g2g2g3g3G4G4        = 1 (4G)
                                    1 g3g3                   2 G4g4 = G1G1g2g2g3g3G4g4           = 2 (3G)                                                                 1 g4g4 = G1G1g2g2g3g3g4g4              = 1 (2G)
1 G4G4 = G1g1G2G2G3G3G4G4        = 2 (7G)
                                    1 G3G3             2 G4g4  = G1g1G2G2G3G3G4g4      = 4 (6G)
                                                            1 g4g4   = G1g1G2G2G3G3g4g4       = 2 (5G)                                                                 1 G4G4 = G1g1G2G2G3g3G4G4      = 4 (6G)
1 G2G2             2 G3g3              2 G4g4 = G1g1G2G2G3g3G4g4            = 8 (5G)
                                                            1 g4g4 = G1g1G2G2G3g3g4g4              = 4 (4G)
                                                            1 G4G4= G1g1G2G2g3g3G4G4       = 2  (5G)
                                    1 g3g3                   2 G4g4 = G1g1G2G2g3g3G4g4        = 4  (4G)
                                                            1 g4g4 = G1g1G2G2g3g3g4g4          = 2  (3G)
                                                            1 G4G4 = G1g1G2g2G3G3G4G4     = 4  (6G)
                                    1 G3G3                 2 G4g4 = G1g1G2g2g3g3G4g4          = 8 (3G)
                                                            1 g4g4 = G1g1G2g2G3G3g4g4    = 4 (4G)
                                                            1 G4G4 = G1g1G2g2G3g3G4G4       = 8 (5G)
1G1g1           2G2g2        2 G3g3                  2 G4g4 = G1g1G2g2G3g3G4g4          = 16 (4G)
                                                            1 g4g4 = G1g1G2g2G3g3g4g4            = 8 (3G)
                                                            1 G4G4 = G1g1G2g2g3g3G4G4       = 4 (4G)                                          1 g3g3                   2 G4g4 = G1g1G2g2g3g3G4g4           = 8 (3G)
                                                            1 g4g4 = G1g1G2g2g3g3g4g4          = 4 (2G)
                                                            1 G4G4 = G1g1g2g2G3G3G4G4      = 2 (5G)
                                    1 G3G3                 2 G4g4 = G1g1g2g2G3G3G4g4        = 4 (4G)                                                                  1 g4g4 = G1g1g2g2G3G3g4g4          = 2 (3G)
                                                            1 G4G4 = G1g1g2g2G3g3G4G4        = 2 (4G)
               1g2g2                 2 G3g3                  2 G4g4 = G1g1g2g2G3g3G4g4          = 8 (3G)
                                                                                1 g4g4 = G1g1g2g2G3g3g4g4             = 4 (2G)
                                                            1 G4G4 = G1g1g2g2g3g3G4G4         = 2 (3G)                                         1 g3g3                   2 G4g4 = G1g1g2g2g3g3G4g4            = 4 (2G)
                                                            1 g4g4 = G1g1g2g2g3g3g4g4               = 2 (1G)
1 G4G4 = g1g1G2G2G3G3G4G4         = 2 (6G)
                                    1 G3G3             2 G4g4  = g1g1G2G2G3G3G4g4       = 2 (5G)
                                                            1 g4g4   = g1g1G2G2G3G3g4g4       = 1 (4G)                                                                  1 G4G4 = g1g1G2G2G3g3G4G4      = 2 (5G)
            1 G2G2             2 G3g3              2 G4g4 = g1g1G2G2G3g3G4g4           = 4 (4G)                                                                 1 g4g4 = g1g1G2G2G3g3g4g4              = 2 (3G)
                                                            1 G4G4= g1g1G2G2g3g3G4G4       = 1  (4G)
                                    1 g3g3                   2 G4g4 = g1g1G2G2g3g3G4g4         = 2  (3G)
                                                            1 g4g4 = g1g1G2G2g3g3g4g4  = 1  (2G)
                                                            1 G4G4 = g1g1G2g2G3G3G4G4   = 2  (5G)
                                    1 G3G3                 2 G4g4 = g1g1G2g2g3g3G4g4           = 4 (2G)
                                                            1 g4g4 = g1g1G2g2G3G3g4g4          = 2 (3G)
                                                            1 G4G4 = g1g1G2g2G3g3G4G4      = 4 (4G)
1g1g1    2G2g2               2 G3g3                  2 G4g4 = g1g1G2g2G3g3G4g4         = 8 (3G)
                                                            1 g4g4 = g1g1G2g2G3g3g4g4            = 4 (2G)
                                                            1 G4G4 = g1g1G2g2g3g3G4G4       = 2 (3G)
                                    1 g3g3                   2 G4g4 = g1g1G2g2g3g3G4g4           = 4 (2G)
                                                            1 g4g4 = g1g1G2g2g3g3g4g4           = 2 (1G)
                                                            1 G4G4 = g1g1g2g2G3G3G4G4       = 1 (4G)
                                    1 G3G3                 2 G4g4 = g1g1g2g2G3G3G4g4         = 2 (3G)
                                                            1 g4g4 = g1g1g2g2G3G3g4g4          = 1 (2G)
                                                            1 G4G4 = g1g1g2g2G3g3G4G4       = 2 (3G)
            1 g2g2                   2 G3g3                  2 G4g4 = g1g1g2g2G3g3G4g4         = 4 (2G)
                                                                                1 g4g4 = g1g1g2g2G3g3g4g4            = 2 (1G)
                                                            1 G4G4 = g1g1g2g2g3g3G4G4        = 1 (2G)
                                    1 g3g3                   2 G4g4 = g1g1g2g2g3g3G4g4           = 2 (1G)
                                                            1 g4g4 = g1g1g2g2g3g3g4g4              = 1 (0G)

Perbandingangenotif   = 0G : 1G : 2G : 3G : 4G : 5G : 6G : 7G : 8G
                                        1   :  8   :  28 : 56  : 70  : 56  : 28  : 8   :  1      = 256

IV.2 Pembahasan
Genetika kuantitatif merrupakan pewarisan sifat yang ditentukan oleh banyak gen (10 sampai 100 lebih), disebut poligen, yang semuanya memberikan efek kumulatif terhadap pembentukan suatu fenotipe, pewarisan kuantitatif tersebut memiliki sifat berupa spektrum, variasi berkesinambungan, berkenaan dengan perkawinan populasi, dan dapat dilakukan analisis statistik.
Hasil persilangan parental atau induk yang memiliki fenotipe hitam dan putih adalah abu-abu. Individu yang dihasilkan dari persilangan tersebut merupakan individu yang intermediet karena memiliki sifat yang merupakan hasil kombinasi sifat kedua induknya sehingga memiliki fenotipe dan genotipe yang berbeda dari induknya, yaitu abu-abu. Secara genotipe induknya yaitu GG1G2G2G3G3G4G4 dengan fenotipe hitam dan g1g1g2g2gg33g4g4 dengan fenotipe putih, sehingga gametnya adalah G1G2G3G4 dan g1g2g3g4, oleh karena itu genotipe F1 dari hasil persilangannya adalah G1g1G2g2G3g3G4g4 dengan fenotipe abu-abu.
 F2 dari persilangan F1 dengan sesamanya akan menghasilkan keturunan sebanyak 256 dengan perbandingan 1 : 8 : 28 : 56 : 70 : 56 : 28 : 8 : 1 yang memiliki variasi fenotipe berupa spektrum hal tersebut disebabkan oleh pengaruh gen-gen ganda atau poligen, sehingga memberikan efek kumulatif  dimana setiap alel pada lokus tersebut akan menambah atau mengurangi nilai fenotipe, makin banyak suatu tanaman mewarisi gen dominan makin tua warnanya. Hal itu menyebabkan sifat keturunan terlihat berderajat berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu sehingga terdapat keberagaman fenotipe dari setiap individu turunannya.
Hal ini sesuai dengan teori dari Kolreuter yang menyatakan bahwa pada waktu menyilangkan dua individu dengan memperhatikan satu sifat beda didapatkan F1 yang semuanya intermedier, sedangkan F2 berupa individu yang memperlihatkan   banyak variasi antara kedua tanaman induknya. Variasi tersebut diakibatkan karena adanya gen-gen ganda yang mempengaruhi suatu fenotip. Hal ini berbeda dengan hukum segregasi Mendel yang menyatakan bahwa jika dua individu disilangkan maka hanya satu sifat saja yang diteruskan kepada  keturunannya.
Berdasarkan hukum Mendel F1 yang dihasilkan dari persilangan kedua parentalnya memiliki sifat dominan, adapun pada F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan fenotipe 3 : 1 sedangkan pewarisan sedangkan pada persilangan berdasarkan genetika kuantitatif akan dihasilkan F1 yang semuanya intermediet, adapun pada F2 berupa individu-individu yang memiliki fenotipe yang beragam atau memperlihatkan banyak variasi antara kedua tanaman induknya.














BAB V
PENUTUP
V.I  Kesimpulan
            Yang dapat disimpulkan dari percobaan pewarisan kuantitatif ini adalah :
1.    Genetika kuantitatif yang dikendalikan oleh poligen akan menyebabkan sifat keturunan tampak berderajat atau berupa spektrum berdasarkan intensitas dari ekspresi sifat itu sedangkan genetika kualitatif yang dapat ditinjau dari hukum Mendel, sifat keturunan dapat dibedakan berdasarkan fenotipenya.
2. Proses mengumpulkan, manganalisis, dan menafsirkan data dapat diketahui berdasarkan praktikum dalam membuat pola pewarisan sifat dengan mencampurkan berbagai warna sebagai fenotipe individu serta dalam membuat diagram pohon, bahwa terdapat kemungkinan adanya pewarisan kuantitatif dari persilangan oleh adanya poligen berdasar hasil analisis dan tafsiran data yang dikumpiulkan.
V.2  Saran
            Pembawaan materi praktikum sebaiknya lebih diperjelas dan suara yang mantap.




DAFTAR PUSTAKA
Agus rosana dan sjafaraenan. 2013. Penuntun Praktikum Genetika. Universitas      Hasanudin: makassar.
Alif, Muhammad Dzikri. 2008. Pola Pewarisan Karakter Kualitatif dan      Kuantitatif Pada Cabai. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Angitasari Vera dan Atikasari Sandra. 2010. Pewarisan Gen Ganda (Poligen)        Pada    Pigmentasi Kulit. http://www.scribd.com/doc/38241941/Pewarisan      -Gen-Ganda-Makalah-Auto-Saved, diakses pada tanggal 15 maret 2013      pukul   20:15 WITA.
Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G., 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid    1. Erlangga: Jakarta.
Kimball, J.W., Tjitrosomo, S.S., Sugiri, N. 1983. Biologi Jilid 1 Edisi Kelima.Erlangga: Jakarta.

Nasir, M. 2001. Keragaman Genetik Tanaman.hal 64. Dalam: Makmur, A.             Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi           Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta.
Suryo. 1984. Genetika. Gadjah Mada university Press: Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar