Sabtu, 01 Juni 2013

INDEKS KEANEKARAGAMAN SERANGGA DI PADANG RUMPUT


LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN IX
INDEKS KEANEKARAGAMAN SERANGGA DI PADANG RUMPUT
NAMA                       : NUR SAKINAH
NIM                            : H41112293
KELOMPOK            : 1 (SATU) B
HARI/TANGGAL    : SELASA/ 09 APRIL  2013
ASISTEN                   : SUWARDI
                                      NURUL QALBY  




LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
  Keanekaragaman hayati merupakan kekayaan hidup organisme di bumi, yang berupa tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan genetika yang dikandungnya, serta ekosistem yang dibangunnya menjadi lingkungan hidup. Dimana kita ketahui bahwa ekosistem adalah suatu sistem dialam yang terdapat hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya, juga dengan lingkungannya (Umar, 2013).
  Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi. Komunitas yang sudah tua dan stabil akan menimbulkan keanekaragaman jenis yang tinggi. Sedangkan suatu komunitas yang sedang berkembang pada tingkatan suksesi mempunyai jumlah jenis rendah daripada komunitas yang sudah mencapai klimaks. Komunitas yang mempengaruhi keanekaragaman yang tinggi lebih tidak mudah terganggu oleh pengaruh lingkungan. Jadi dalam suatu komunitas yang keanekaragamannya tinggi akan tejadi interaksi spesies yang melibatkan transfer energi, predasi, kompetisi dan niche yang lebih kompleks (Umar, 2013).
  Untuk beberapa tujuan yang praktis, ada suatu cara penentuan untuk menduga indeks keanekaragaman suatu habitat/komunitas, tanpa harus mengetahui nama masing-masing jenis hewan dan kelompok hewan. Kemampuan yang diperlukan hanya menyatakan, apakan kedua jenis hewan sama atau tidak/berbeda pada pola urutan pengambilan sampel yang dilakukan secara acak pada saat pengamatan di laboratorium atau di lapangan secara langsung, metode itu dikemukakan oleh Kennedy (Setiadi, 1990). Oleh karena itu dilakukan percobaan ini untuk mengetahui indeks keanekaragaman serangga dipadang rumput dengan  menggunakan indeks Kennedy dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi populasi di suatu daerah.

1.2  Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini, yaitu :
1.      Menentukan indeks keanekaragaman serangga yang terdapat di padang rumput dengan menggunakan indeks Kennedy.
2.      Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dan cepat dalam memprediksi keadaan suatu komunitas.

1.3  Waktu dan Tempat Percobaan
  Pada percobaan Indeks Keanekaragaman Serangga di Padang Rumput  dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 09 Maret 2013, Pukul 15.00 – 17.30 WITA, yang bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengambilan sampel dilaksanakan pukul 06.00-07.30 di padang rumput sekitar Danau Universtas Hasanuddun, Makassar.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya (Umar, 2013).
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik)Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air (Campbell, 2008).
Ekosistem adalah suatu faktor lingkungan yang melibatkan unsur-unsur biotik (makhluk hidup) dan faktor-faktor fisik (kimia, air, tanah) serta kimia (keasaman, salinitas) yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Perpaduan antara tanah dan iklim yang beraneka ragam, letak geografi yang membentang luas serta jenis-jenis makhluk hidup yang sangat bervariasi akan mengakibatkan ekosistem yang terbentuk juga beraneka ragam (Campbell, 2008).
 
Salah satu kekayaan sumber daya hayati berupa fauna adalah serangga. Serangga merupakan salah satu kelas dalam filum Arthropoda yang paling  banyak  jumlahnya. Lebih kurang 70% dari filum Arthropoda yang ada di dunia adalah serangga. Tubuh serangga terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu kepala (caput ), dada ( thoraks ) dan perut (abdomen). Pada kepala terdapat sepasang antena yang ukurannya sangat bervariasi dan mulut yang memiliki berbagai tipe sesuai dengan jenis makananya, ada yang memiliki tipe mulut untuk menggigit,  mengunyah, menghisap, menyerap, menjilat,dan menusuk serta modifikasi bentuk mulut lainnya. Bagian dada pada serangga terdiri dari tiga segmen, masing-masing didukung oleh sepasang kaki, sehingga serangga mempunyai enam kaki (heksapoda). Berbeda dengan hewan Arthropoda lainnya, pada toraks insekta terdapat dua pasang sayap, masing-masing pada segmen dada kedua dan ketiga. Adanya sayap memungkinkan kelompok serangga dapat terbang dan berpindah ketempat yang jauh. Bagian perut pada dasarnya terdiri dari 12 ruas, tetapi pada beberapa serangga hanya mempunyai 6-8 ruas karena ada ruas-ruas bagian perut yang mereduksi (Odum, 1993).
Adanya peningkatan  populasi yang tinggi akan menimbulkan persaingan (kompettisi). Kompetisi ini selanjutnya berakibat dalam waktu yang singkat akan menimbulakan efek ekologi dan dalam jangka waktu yang lama akan meninbulkan efek atau akibat evolusi. Perlu diketahui bahwa kompetisi membangkitkan daya  juang untuk mempertahankan kelangsungan hidup, tentunya yang kuat akan menang (survive) dari populasi yang lemah. Jika hal ini berlangsung singkat, ekologinya dapat berupa (Soedjiran, 1990) yaitu:
1.    Kelahiran, kelangsungan hidup dan pertumbuhan populasi akan terganggu.
2.    Terjadi emigrasi atau perpindahan populasi.
       Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat jenis dan tingkat ekosistem (Michael, 1994) :
a.    Keanekaragaman jenis
Manusia dalam mengenal adanya keanekaragaman makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dapat diamati dan juga mungkin tingkah laku, penampilannya, makanannya dan cara perkembangbiakannya, habitatnya serta  interaksinya dengan makhluk lain.
Pada tumbuhan yang dapat diamati misalnya tempat tumbuhnya, batangnya, daunnya, bunganya, serangga yang mengunjunginya serta burung yang bersarang di dalamnya.
b. Keanekaragaman genetis/gen/genetika
Setiap populasi mempunyai sifat genetik tertentu. Individu-individu sejenis ini mempunyai kerangka dasar komponen genetis yang sama (kromosomnya sama tetapi memiliki komponen faktor keturunan yang berbeda).
Contohnya  : Rasa manis dan asam pada mangga, warna kuning, merah dan putih pada biji jagung.
Keanekaragaman gen menentukan keanekaragaman jenis individu, meski jenisnya sama tetapi memiliki gen yang tidak sama bila dibandingkan dengan individu lain dalam kelompok tersebut. Keaneka ragaman genetik merupakan keanekaragaman sifat yang terdapat dalam satu jenis. Dengan demikian tidak ada satu makhlukpun yang sama persis dalam penampakannya.
c. Keanekaragaman ekosistem
Ekosistem merupakan satu kesatuan lingkungan yang melibatkan faktor biotik (makhluk hidup) dan faktor abiotik (mineral, udara, air, tanah dll.) yang  berinteraksi satu sama lain. Indonesia memiliki makhluk hidup yang bervariasi, sehingga ekosistem yang terbentuk juga beragam.
Contohnya  : Ekosistem bahari, ekosistem hutan bakau, ekosistem hutan rawa air tawar, ekosistem danau, dan ekosistem pertanian
Indeks keragaman jenis merupakan parameter yang sangat banyak digunakan untuk membandingkan data komunitas tumbuhan terutama untuk mempelajari pengaruh dari gangguan faktor biotik atau untuk mengetahui tingkat
tahapan suksesi dan kestabilan dari komunitas tumbuhan. Keragaman jenis dihitung dengan menggunakan indeks keragaman jenis yang merupakan perbandingan antara jumlah dari jenis dan nilai penting atau jumlah atau biomassa atau produktivitas dari individu-individu (Umar, 2013).
Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk menentukan indeks keanekaragaman suatu komunitas, sangatlah diperlukan pengatahuan/keterampilan dalam mengindentifikasi hewan. Bagi seseorang yang sudah terbiasa pun dalam melakukan indentifikasi hewan sering membutuhkan waktu yang lama, apalagi yang belum terbiasa. Karena itu untuk kajian dalam komunitas dan indeks keanekaragaman sering didasarkan pada kelompok hewan, misalnya, familia, ordo atau kelas dan hal ini pun dibutuhkan cukup keterampilan dan pengalaman. Mengingat keanekaragaman spesies dan jumlah hewan yang berada di daerah tropis jauh lebih banyak di bandingkan dengan daerah temperatur dan daerah beriklim dingin. Untuk beberapa tujuan yang praktis, ada suatu cara penentuan untuk mendukung indeks keanekaragaman suatu habitat/komunitas tanpa harus mengetahui nama masing-masing jenis hewan sama atau tidak/berbeda pada pola pengurutan pengambilan sampel yang dilakukan secara aacak pada saat pengamatan di laboratorium atau di lapangan secara langsung, metode itu dikemukakan oleh Kennedy, 1997 (Umar, 2013).



















BAB III
METODOLOGI   PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sweeping net, botol sampel, alat tulis dan pingset.

III. 2 Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah alkohol dan serangga yang akan diamati.

III. 3 Cara Kerja
A. Di Lapangan
1.    Dipilih lokasi padang rumput yang ada di sekitar kampus, kemudian dilakukan penangkapan serangga dengan menggunakan jaring serangga
2.    Sweeping net diayunkan ke kanan dan ke kiri di permukaan padang rumput, setiap melangkah 1 kali ayunan, dilakukan 10 kali ayunan.
3.    Sweeping net digulung agar serangga yang telah tertangkap tidak lepas, kemudian serangga yang telah tertangkap dimasukkan ke dalam botol.
4.    Lakukan hal di atas pada tempat yang berbeda, dan masukkan serangga pada botol yang berbeda.
5.    Kemudian ke dua botol di beri alkohol dengan tujuan untuk membius serangga tersebut.
B. Di Laboratorium
1.    Serangga yang telah ditangkap dikeluarkan dari dalam botol
2.    Kemudian serangga diambil dengan pinset dan disusun secara acak diatas selembar kertas.
3.    Diamati serangga no. 1, kemudian diberi tanda + pada kertas, diambil serangga no. 2 dan diletakkan berdampingan dengan serangga no. 1 dan diamati apabila sama diberi tanda 0 dan bila berbeda diberi tanda + , diambil serangga berikutnya kemudian diamati lalu diberi tanda seperti pada serangga sebelumnya begitu seterusnya hingga serangga terakhir.
4.    Dicatat jumlah tanda + yang ada dan jumlah keseluruhan spesimen yang didapatkan.
5.    Kemudian dari data yang telah didapatkan tadi dicari indeks keankaragamannya dengan menggunakan indeks kennedy dengan rumus:
ID Kennedy = Jumlah tanda + / Jumlah spesimen










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1.1 Data Hasil  Pengamatan
a.    Hasil Pengamatan Pada lokasi I
Tabel 1.  Hasil Pengamatan pada Lokasi I
URUTAN SPESIMEN
JUMLAH TANDA

+  0  0  +   +  +  0  +  +  0  +  +  0  +

n= 14

9

b.    Hasil Pengamatan Lokasi II
Tabel 2. Hasil Pengamatan Lokasi II
URUTAN SPESIMEN
JUMLAH TANDA +

+  +  0  +  +  +  +  +  +  +  +  +  0  +  +  +  0  +

n = 18

15

IV.1. 2 Analisa Data
1.    Pada Lokasi I
ID Kennedy           =  
                                     =  
 = 0,64
Jadi, dapat di golongkan bahwa tingkat keanekaragaman tinggi
2.    Lokasi II
ID Kennedy            =  
                                     =
 = 0,83
Jadi, dapat di golongkan bahwa tingkat keanekaragamannya sedang

IV.2 Pembahasan
              Keanekaragaman hayati merupakan kekayaan hidup organisme di bumi, yang berupa tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan genetika yang dikandungnya, serta ekosistem yang dibangunnya menjadi lingkungan hidup. Dimana kita ketahui bahwa ekosistem adalah suatu sistem dialam yang terdapat hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya, juga dengan lingkungannya. 
            Pada percobaan ini, menggunakan alat yaitu jaring (Sweeping net). Pengambilan sampel di lakukan di dua tempat yang berbeda dengan cara Sweeping net diayunkan ke kanan dan ke kiri di permukaan padang rumput, setiap melangkah 1 kali ayunan, dilakukan 10 kali ayunan. Kemudian serangga yang telah di tangkap di masukkan kedalam botol. Lakukan hal di atas dengan tempat yang berbeda dengan dan masukkan pada botol yang berbeda pula. Selanjutnya ke dua botol di berikan alkohol dengan tujuan untuk membius serangga yang ada didalam botol tersebut.
Dari percobaan yang telah dilakukan dan setelah melalui proses pengamatan dan perhitungan, maka diperoleh hasil Indeks Keanekaragaman Kennedy untuk perhitungan yaitu pada lokasi pertama adalah 0,64  dan pada lokasi kedua adalah 0,83. Dengan melihat nilai Indeks Kennedy pada lokasi kedua  dari hasil perhitungan di mana nilai yang diperoleh 0,83 mendekati 1, ini menandakan tingkat keanekaragaman serangga di padang rumput sekitar danau Unhas tergolong tinggi, sedangkan pada lokasi pertama indeks kennedy adalah 0,64 ini lebih rendah keanekaragaman serangga dari pada lokasi kedua yang berarti keanekaragamannya tergolong sedang.
            Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut dapat simpulkan bahwa lingkungan tempat pengambilan sampel tersebut masih cukup stabil, artinya lingkungan tempat pengambilan sampel belum terpengaruh oleh hal-hal yang bisa membuat populasi serangga di tempat itu berkurang, pencemaran yang terjadi di danau Unhas belum memberi pengaruh yang cukup berarti pada serangga yang berada disekitar danau. Lingkungan tempat pengambilan sampel menjadi habitat yang cocok untuk serangga-serangga tersebut, sehingga jumlah spesies serangga yang ada cenderung dalam jumlah yang besar.
Keanekaragaman organisme di suatu tempat dipengaruhi oleh beberapa faktor tersebut adalah faktor udara, tanah, organisme, dan beberapa faktor stabil, yaitu ketinggian, lintang, letak, dan pH. Jumlah spesies dalam komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keanekaragaman spesies akan bertambah bila habitat stabil atau sesuai dengan komunitas bersangkutan.
            Dengan keadaan lingkungan yang relatif stabil, serangga masih dapat menambah atau memperbesar jumlah populasinya serta memperbanyak variasi individunya. Tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti populasi dari serangga akan berkurang begitu pula dengan keanekaragamannya karena dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya pencemaran lingkungan, aktivitas manusia yang dapat mempersempit habitat serangga tersebut serta makanan yang tersedia mulai berkurang sehingga tingkat kompetisi antara serangga menjadi tinggi sehingga serangga banyak yang melakukan emigrasi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ditemukan bahwa indeks keanekaragaman serangga di padang rumput tepatnya di sekitar danau, dikategorikan tinggi karena diakibatkan oleh faktor lingkungan dan serangga mampu beradaptasi karena lokasi pengamatan itu yang memiliki padang rumput yang subur.







DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., J. B. Reece, and L. A. Urry., 2008. BIOLOGI Edisi kedelapan   jilid 3. Erlangga, Jakarta.
Michael, P. E., 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan       Laboratorium. Universitas Indonesia, Jakarta.
Odum, Eugene, 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Universitas Gadjah Mada,       Yogyakarta.
Setiadi, D., 1990. Dasar-Dasar Ekologi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soedjiran, 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya, Jakarta.
Umar, M. R., 2013. Ekologi Umum. Universitas       Hasanuddin, Makassar.
Umar, M. R., 2013. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas          Hasanuddin, Makassar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar