Jumat, 07 Juni 2013

IMITASI PERBANDINGAN GENETIS


LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
PERCOBAAN I
IMITASI PERBANDINGAN GENETIS

                        NAMA                       : NUR SAKINAH
                        NIM                            : H41112293
                        HARI/TANGGAL    : KAMIS, 7 MARET 2013
                        KELOMPOK            : III (TIGA)
                        ASISTEN                   : JULIAR NUR


LABORATORIUM GENETIKA
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
 2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Orang yang pertama kali melakukan persilangan dengan dengan menggunakan tumbuhan sebagai bahan adalah seorang alim ulama berkebangsan Australia bernama GEOGOR MENDEL (1822-1884) pada tahun 1866. Mendel diakui sebagai bapak genetika. Dalam percobaan awal Mendel ia menggunakan 1 sifat beda pada tumbuhan sebagai alat uju silang. Yang mana dalam persilangan monohybrid didapat hasil anakan dengan rasio fenotip 3 : 1. Hali ini dikarenakan gen-gen yang sealel memisah. Ini dikenal sebagai Hukum I Mendel (Suryo, 1996).
Mendel mempelajari beberapa pasang sifat pada tanaman kapri. Masing-masing sifat yang dipelajari adalah: tinggi tanaman, warna bunga, bentuk biji, dan lain-lain yang bersifat dominan dan resesif. Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah monohibrid. Selain itu Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat (dihibrid), tiga sifat (trihibrid) dan banyak sifat (polihibrid) (Suryo,1996).
Persilangan dihibrida merupakan perkawinan dua individu dengan dua tanda beda. Prinsip-prinsip hereditas atau persilangan ini ditulis oleh Gregor Johann Mendel pada tahun 1865. Persilangan ini dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan dihasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Seringkali terjadi penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan yang mungkin ini  disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya interaksi gen, adanya gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya (Campbell, 2008).
Oleh sebab itu  untuk membuktikan hukum mendel  II ini maka dilakukan percobaan imitasi perbandingan genetis yang diharapkan dapat memberikan gambaran kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet tertentu secara acak atau random.
1.2  Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawah oleh gamet-gamet tertentu dan akan bertemu secara acak  atau random.
1.3  Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 14 Maret 2013, mulai pukul 14:30-17:30 WITA. Bertempat  di Laboratorium  Biologi Dasar Lantai 1, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas  Hasanuddin, Makassar.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian (Irham, 2012):
1.      Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagaiHukum Pertama Mendel, dan
2.      Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
Hukum Mendel 1 (hukum segragasi)  menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya.
Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok ( Campbell, 2008):
1.      Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter yang diwarisi.
2.      Setiap karakter, organisme  mewarisi dua alel,  satu dari masing-masing induk
3.      Jika dua  alel pada suatu lokus  berbeda,  maka salah satunya,  alel  dominan menentukan kenampakan organisme, yang satu lagi alel resesif, tidak memiliki  efek nampak pada kenampakan organisme.

Contoh :
Seperti nampak pada gambar 1, induk jantan (tingkat 1) mempunyai genotipe ww (secara fenotipe berwarna putih), dan induk betina mempunyai genotipe RR (secara fenotipe berwarna merah). Keturunan pertama (tingkat 2 pada gambar) merupakan persilangan dari genotipe induk jantan dan induk betinanya, sehingga membentuk 4 individu baru (semuanya bergenotipe wR). Selanjutnya, persilangan/perkawinan dari keturuan pertama ini akan membentuk indidividu pada keturunan berikutnya (tingkat 3 pada gambar) dengan gamet R dan w pada sisi kiri (induk jantan tingkat 2) dan gamet R dan w pada baris atas (induk betina tingkat 2). Kombinasi gamet-gamet ini akan membentuk 4 kemungkinan individu seperti nampak pada papan catur pada tingkat 3 dengan genotipe: RR, Rw, Rw, dan ww. Jadi pada tingkat 3 ini perbandingan genotipe RR , (berwarna merah) Rw (juga berwarna merah) dan ww (berwarna putih) adalah 1:2:1. Secara fenotipe perbandingan individu merah dan individu putih adalah 3:1 (Anonim, 2012).
Hukum kedua Mendel (Hukum Absortasi Bebas) menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda tidak saling memengaruhi. Apabila domonansi nampak penuh ,maka perkawinan dihibrid menghasilka keturunan dengan perbandingan fenotip 9:3:3:1.Pada semidominansi (artinya domonansi tidak tampak penuh,sehingga ada sifat intermedier) maka hasil perkawinan monohibrid menghasikan keturunan dengan perbandingan 1:2:1.Tentunya mudah di mengerti bahwa pada semidominansi,perkawinan dihibrid akan mengahsilkan keturunan dengan perbandingan 1:2:1:2:4:2:1:2:1(Suryo,2004).
Contoh:
Pada gambar 2, sifat dominannya adalah bentuk buntut (pendek dengan genotipe SS dan panjang dengan genotipe ss) serta warna kulit (putih dengan genotipe bb dan coklat dengan genotipe BB). Gamet induk jantan yang terbentuk adalah Sb dan Sb, sementara gamet induk betinanya adalah sB dan sB (nampak pada huruf di bawah kotak). Kombinasi gamet ini akan membentuk 4 individu pada tingkat F1 dengan genotipe SsBb (semua sama). Jika keturunan F1 ini kemudian dikawinkan lagi, maka akan membentuk individu keturunan F2. Gamet F1nya nampak pada sisi kiri dan baris atas pada papan catur. Hasil individu yang terbentuk pada tingkat F2 mempunyai 16 macam kemungkinan dengan 2 bentuk buntut: pendek (jika genotipenya SS atau Ss) dan panjang (jika genotipenya ss); dan 2 macam warna kulit: coklat (jika genotipenya BB atau Bb) dan putih (jika genotipenya bb). Perbandingan hasil warna coklat:putih adalah 12:4, sedang perbandingan hasil bentuk buntut pendek:panjang adalah 12:4. Perbandingan detail mengenai genotipe SSBB:SSBb:SsBB:SsBb: SSbb:Ssbb:ssBB:ssBb: ssbb adalah 1:2:2:4: 1:2:1:2: 1 (Anonim, 2012).
Chi kuadrat adalah uji nyata apakah data yang di peroleh benar menyimpang dari nisbah yang di harapkan,tidak secara betul.Perbandingan yang di harapkan berdasarkan pemisahan hipotesis berdasarkan pemisahan alel secara bebas. Perlu di adakan evaluasi terhadap kebenaran atau tidaknya hasil percobaan yang kita lakukan di bandingkan dengan keadaan secara teoritis.suatu cara untuk mengadakan evaluasi itu adalah melakukan test “chi-squre”.Di nyatakan dengan rumus :
X2= ∑
Keterangan :          X2 = chi kuadrat
∑ = Jumlah
e = hasil yang di ramal/di harapkan (inggrisnya “expected”)
d = deviasi / penyimpangan (inggrisnya “observed”) dan hasil yang diramal ( Suryo,2004).

Tabel Chi Square passel.unl.edu

Dalam hitungan,harus di perhatikan besarnya derajat kebebasan (bahasa inggrisnya : degree of freedom),yang nilainya sama dengan jumlah kelas fenotip di kurangi dengan satu.Dalam tabel,makin kekanan nilai kemumgkinan itu makin menjauhi nilai 1,yang berarti bahwa data hasil percobaan yang di peroleh itu tidak baik.Makin kekiri nilai kemungkinan makin mendekati 1 (100%),yang berarti bahwa data percobaan yang di peroleh adalah baik.Apabila nilai x2 yang di dapat dari perhitungan terletak di bawah kolom nilai kemungkinan 0,05 atau kurang (0,1 atau 0,01) itu berarti bahwa faktor kebetulan hanya berpengaruh sebanyak 5% atu kurang,sehingga data percobaan yang di dapat di nyatakan buruk.Apabila nilai x2 yang di dapat dari perhitungan letaknya di dalam kolom kemungkinan 0,01 atau ahkan 0,001 itu berarti bahwa data yang di peroleh pada percobaan itu sangat buruk, (Suryo,2004).



















BAB III
METODE  PERCOBAAN
III. 1 Alat dan Bahan
III. 1. 1 Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah perlengkapan alat tulis menulis dan kantong baju.
III.1.2  Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah 20 biji genetik yang masing-masing terdiri dari 5 warna  hijau-kuning, 5 merah-hitam, 5 merah-hijau, dan 5 kuning-hitam.
III.2  Cara Kerja
      Cara kerja pada percobaan ini yaitu :
1.      Alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan disiapkan
2.      Masing-masing 10 biji genetik dimasukkan kedalam kantong kanan dan kiri
3.      Satu biji genetik diambil dari kantong kiri ddan kantong kanan pada waktu yang bersamaan sehinggadihasilkan sebuah  kombinasi  genetik, kemudian dicatat  hasil yang diperoleh
4.      Setelah dicatat hasilnya, kembalikan kombinasi biji genetik itu kedalam kantong asalnya, kemudian dikocok supaya tercampur kembali.
5.      Pengambilan biji genetik diulangi sampai 16 kali pengambilan
6.      Buatlah tabel dari hasil percobaan yang dilakukan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1. Hasil
IV.1.1 Hasil Data Kelompok
No

Genotip/Fenotip


K-B-
(Kuning-Bernas)
K-bb
(Kuning-Kisut)
KKB-
(Putih-Bernas)
Kkbb
(Putih-Kisut)
1
ü   



2
ü   



3
ü   



4



ü   
5

ü   


6

ü   


7


ü   

8
ü   



9

ü   


10

ü   


11
ü   



12


ü   

13

ü   


14
ü   



15
ü   



16
ü   



Jumlah
8
5
2
1

IV. 1.2 Hasil Data Kelas B
Kelompok
K-B-
(Kuning-Bernas)
K-bb
(Kuning-Kisut)
KKB-
(Putih-Bernas)
Kkbb
(Putih-Kisut)
1
9
0
5
2
2
8
3
4
1
3
8
5
2
1
4
11
3
1
1
5
9
0
5
2
6
8
2
3
3
7
11
2
2
1
Jumlah
64
15
22
11

IV.1.3 Tabel X2 (Chi Square Text) Kelas
No
K-B-
(Kuning-Bernas)
K-bb
(Kuning-Kisut)
KKB-
(Putih-Bernas)
Kkbb
(Putih-Kisut)
O
64
15
22
11
E
63
21
21
7
D
1
6
1
4
d2/e
0,015
1,714
0,047
2,285


IV.1.4 Tabel X2 (Chi Square Text) Kelompok
No
K-B-
(Kuning-Bernas)
K-bb
(Kuning-Kisut)
KKB-
(Putih-Bernas)
Kkbb
(Putih-Kisut)
O
8
5
2
1
E
9
3
3
1
D
-1
2
-1
0
d2/e
0,111
1,333
0,333
0

IV.2 Analisis Data
IV.2.1 chi square kelas
·           Nilai harapan (o)
nilai harapan (o) = 64 + 15 + 22 + 11= 112
·           Diramal (e)
e1=
e2
e3=
e4=
·           Deviasi
d1=  o – e                                             d3= o -e
     = 64 – 63                                           = 22 - 21
     = 1                                                     = 1
d2= o – e                                              d4= o - e
    = 15 – 21                                              = 11- 7
   = -6                                                        =  4


X2 = ∑
     = 0,015  + 1,714 + 0,047 + 2,285
X2 = 4,061
Jadi derajat kebebasannya 4-1 = 3
K(3) =  antara 0,50 sampai 0,25
IV.2.2 chi square kelompok
·           Nilai harapan (o)
nilai harapan (o) = 8 + 5 + 2 + 1= 16
·           Diramal (e)
 e1=
e2
e3=
e4=
·           Deviasi
d1=  o – e                                             d3= o - e
     = 8 – 9                                               = 2 - 3
     = -1                                                  = -1
d2= o – e                                              d4= o - e
    = 5 – 3                                                  = 1- 1
   = 2                                                         =  0


X2 = ∑
     = 0,111  + 1,333 + 0,333 + 0
X2 = 1,777
Jadi derajat kebebasannya 4-1 = 3
K(3) =  antara angka 0,75 sampai 0,50
IV.2 Pembahasan
              Dari percobaan tes imitasi genetis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa ternyata kemungkinan atau peluang yang dimiliki tiap gen itu berbeda. Dan setiap kemungkinan gen itu memiliki peluang, namun persentase peluang tiap gen itu berbeda.
Pada percobaan Imitasi Perbandingan Genetis ini dilakukan dengan menggunakan biji genetis sebanyak 20 buah yang mempunyai warna sangat bervariasi yaitu : 5 warna merah (k), 5 hijau (B), 5 hitam (b), dan  5 kuning (K). Kemudian dimasukkan dalam kantong yang berbeda, 10 bji dikantung kiri, dan 10 biji dikantong kanan yang diambil secara acak sebanyak 16 kali.
Seringkali kita ragu apakah data hasil percobaan yang kita lakukan sudah pasti. Metode X2 (Chi square) adalah cara untuk membandingkan data percobaan yang diperoleh dari hasil persilangan dengan hasil yang diharapkan berdasarkan hipotesis secara teoristis yang harus dievaluasi.  Chi- square bertujuan untuk: Mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen-gen yang dibawa oleh gamet-gamet akan bertemu secara acak (random).
Untuk mencari nilai X2 atau chi square, digunakan rumus X2 = ∑ , pada perhitungan data chi  square kelas menghasilkan 4,061 dri tabel chi-square, angka 4,061 terletak diantara angka 2,366 sampai 4,11. Jadi K(3)= Berada diantara 0,50 - 0,25 karena nilai kemungkinan lebih besar dari 0.05 (batas signifakan), begitupun dengan hasil data chi square kelompok yaitu 1,777 dri tabel chi-square, angka 1,777 terletak diantara angka 1,212 sampai 2,366. Jadi K(3)= berada diantara 0,75 - 0,50. Karena nilai kemungkinan lebih besar dari 0.05 (batas signifakan), maka deviasi tidak berarti dan percobaan dianggap baik atau benar.  Kisaran keduaa nilai jauh diatas nilai probabilitas kritis, yaitu 0.05 atau 5%. Oleh karena itu, kita dapat menerima hipotesis nol dan data yang kita peroleh sebagai hasil yang sesuai denga ratio 9 : 3: 3 : 1 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa percobaan yang telah dilakukan sesuai dengan teori Hukum Mendel atau tidak melenceng dari apa yang telah ditetapkan dan telah nonsignifikan.















BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kita dapat menarik kesimpulan bahwa terdapat gambaran tentang gen-gen yang diperoleh dari gamet-gamet yang dipilih secara acak atau random dan hasil yang diperoleh sesuai dengan teori Hukum Mendel atau tidak melenceng dari apa yang telah ditetapkan dan telah nonsignifikan.
V.2 Saran      
Sebaiknya dalam melakukan praktikum di butuhkan ketelitian pada saat mengumpulkan data agar tidak terjadi kesalahan data. Dan dibutuhkan peranan asisten dalam mendampingi praktikkan ketika sedang melakukan pengamatan agar tingkat kekeliruan dan kesalahan dalam pengamatan atau praktikum tidak terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Aryom, 2009. Laporan Praktikum Genetika. http://ice-aryom.blogspot.com             /2009/08/laporan-praktikum-genetika-imitasi,diakses pada tanggal 7          Maret 2013 pukul  20.45 WITA.
Campbell dkk, 2008. BIOLOGI Edisi kedelapan Jilid 1. Erlangga: Jakarta.
Irham,2012.Imitasi  Perbandingan genetis. http://irhamlone24.blogspot.com /2012/11/imitasi-perbandingan-genetis_13.html, diakses pada tanggal           7 Maret 2013 pukul  20.35 WITA.
Suryo, 1996.Genetika.Genetika MadaUniversity Press: Yogyakarta.
Suryo, 2004. Genetika. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar