Sabtu, 01 Juni 2013

KEANEKARAGAMAN JENIS DALAM KOMUNITAS


LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN X
KEANEKARAGAMAN JENIS DALAM KOMUNITAS
NAMA                       : NUR SAKINAH
NIM                            : H41112293
KELOMPOK            : 1 (SATU) B
HARI/TANGGAL    : SELASA/ 23 APRIL  2013
ASISTEN                   : SUWARDI
                                      NURUL QALBY  

http://fairuzelsaid.files.wordpress.com/2010/02/logo-unhas-hitam-putih.jpg



LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHHULUAN
1.1  Latar Belakang
Suatu organisme tidak dapat hidup menyendiri, tetapi harus hidup bersama-sama dengan organisasi sejenis atau dengan yang tidak sejenis. Berbagai organisme yang hidup di suatu tempat, baik yang besar maupun yang kecil, tergabung dalam suatu persekutuan yang disebut komunitas biotik. Suatu komunitas biotik terikat sebagai suatu unit oleh saling ketergantungan anggota-anggotanya. Suatu komunitas adalah suatu unit fungsional dan mempunyai struktur yang pasti. Tetapi srtuktur ini sangat variabel, karena jenis-jenis komponennya dapat dipertukarkan menurut aktu dan ruang. Komunitas biotik terdiri atas kelompok kecil, yang anggotanya lebih akrab lagi satu sama lain, sehingga kelompok kecil itu merupakan unit yang kohesif (Rososoedarmo, 1990).
Keanekaragaman Jenis merupakan variasi organisme yang ada di bumi. Jenis merupakan suatu organisme yang dapat dikenal dari bentuk atau penampilannya dan merupakan gabungan individu yang mampu saling kawin di antara sesamanya secara bebas (tetapi tidak dapat melakukannya dengan jenis lain), untuk menghasilkan keturunan yang fertil (subur).  Jenis itu terbentuk oleh kesesuaian kandungan genetik yang mengatur sifat-sifat kebakaan dengan lingkungan tempat hidupnya. Karena lingkungan tempat hidup jenis itu beranekaragam, jenis yang dihasilkannya pasti akan beranekaragam pula (Campbell dkk, 2008). Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung dan menganalisis data dari keanekaragaman jenis suatu komunitas pada daerah/wilayah tertentu dengan menggunakan Indeks Simpson dan Indeks Shannon-Wiener, maka dilakukanlah percobaan ini.

1.2  Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu:
1.    Untuk mengetahui dan menentukan keanekaragaman jenis suatu komunitas dengan berdasarkan pada indeks Simpson dan Indeks Shannon-Wiener.
2.    Untuk melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam menghitung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas.

1.3  Waktu dan Tempat Percobaan
   Percobaan Keanekaragaman Jenis Dalam Komunitas ini dilakukan pada hari Selasa, tanggal  23 April 2013 pukul 14.30-17.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar Lantai 1, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar, dan pengambilan data dilakukan di Canopy Biologi, Universitas Hasanuddin, Makassar.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Tanaman dan hewan dari berbagai  jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membentuk kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungannya yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat pula kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk suatu derajat keterpaduan. Kumpulan atau susunan dari berbagai populasi yang tekad menyesuaikan diri dan menghuni suatu wilayah tertentu di alam disebut komunitas. Komunitas mempunyai struktur dan fungsi di alam bahkan dengan derajat organisme yang lebih tinggi, karena mempunyai ciri, sifat, dan kemampuan yang lebih tinggi daripada populasi. Dalam populasi interaksi hanya bisa dicapai antar individu, sedangkan dalam komunitas bisa antar populasi (Odum, 1993).      
Suatu organisme tidak dapat hidup menyendiri, tetapi harus hidup bersama-sama dengan organisasi sejenis atau dengan yang tidak sejenis. Berbagai organisme yang hidup di suatu tempat, baik yang besar maupun yang kecil, tergabung dalam suatu persekutuan yang disebut komunitas biotik. Suatu komunitas biotik terikat sebagai suatu unit oleh saling ketergantungan anggota-anggotanya. Suatu komunitas adalah suatu unit fungsional dan mempunyai struktur yang pasti. Tetapi struktur ini sangat variabel, karena jenis-jenis komponennya dapat dipertukarkan menurut waktu dan ruang. Komunitas biotik terdiri atas kelompok kecil, yang anggota-anggotanya lebih akrab lagi satu sama lain, sehingga kelompok kecil itu merupakan unit yang kohesif (Wolf, 1992).
Setiap makhluk hidup memiliki ciri dan tempat hidup yang berbeda. Melalui pengamatan, kita dapat membedakan jenis-jenis makhluk hidup. Pembedaan makhluk hidup tanpa dibuat berdasarkan bentuk, ukuran, warna, tempat hidup, tingkah laku, cara berkembang biak, dan jenis makanan. Perbedaan atau keanekaragaman hayati dapat disebabkan oleh faktor abiotik maupun oleh faktor biotik. Perbedaan keadaan udara, cuaca, tanah, kandungan air, dan intensitas cahaya matahari menyebabkan adanya perbedaan hewan dan tumbuhan yang hidup. Pada umumnya pola distribusi penyebaran tumbuhan dan hewan dikendalikan oleh faktor abiotik seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Perubahan pada faktor abiotik dapat menyebabkan organisme berkembang dan melakukan spesialisasi (Resosoedarmo, 1990).
Keanekaragaman jenis merupakan karakteristik tingkatan dalam komunitas berdasarkan organisasi biologisnya, yang dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitasnya. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies dengan kelimpahan spesies sama dan hampir sama. Sebaliknya jka suatu komunitas disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan maka keanekaragaman jenisnya rendah (Umar, 2013).
            Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi. Komunitas yang tua dan stabil akan mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi. Sedangkan suatu komunitas yang sedang berkembang pada tingkat suksesi mempunyai jumlah jenis rendah daripada komunitas yang sudah mencapai klimaks. Komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi lebih tidak mudah terganggu oleh pengaruh lingkungan. Jadi dalam suatu komunitas dimana keanekaragamannya tinggi akan terjadi interaksi spesies yang melibatkan transfer energi, predasi, kompetisi dan niche yang lebih kompleks (Umar, 2013).
Keanekaragaman hayati tumbuh dan berkembang dari keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetis, dan keanekaragaman ekosistem. Ketiga  keanekaragaman ini saling kait-mengkait dan tidak terpisahkan, maka dipandang sebagai satu keseluruhan (totalitas) yaitu keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat jenis dan tingkat ekosistem (Wolf, 1992).
            Konsep komunitas cukup jelas, tetapi seringkali dalam penentuan batas dan pengenalan batas komunitas tidak mudah. Meskipun demikian, komponen komunitas ini mempunyai kemampuan untuk hidup dalam lingkungan yang sama di suatu tempat dan untuk hidup saling bergantung yang satu terhadap yang lain. Komunitas mempunyai derajat keterpaduan yang lebih tinggi dari pada individu-individu dan populasi tumbuhan dan hewan yang menyusunnya. Komposisi suatu komunitas ditentukan oleh seleksi tumbuhan dan hewan yang kebetulan mencapai dan mampu hidup di tempat tersebut, dan kegiatan komunitas-komunitas ini bergantung pada penyesuaian diri setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan biologi yang ada di tempat tersebut (Odum, 1993).
            Keanekaragaman kecil terdapat pada komunitas yang terdapat pada daerah dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya daerah kering, tanah miskin dan pegunungan tinggi. Sementara itu, keanekaragaman yang tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum. Hutan tropika adalah contoh komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi. Ahli ekologi berpendapat bahwa komunitas yang mempunyai keanekaragaman yang tinggi, seperti dicontohkan dengan hutan itu mempunyai keanekaragaman yang tinggi itu stabil. Ada ahli yang berpendapat sebaliknya, bahwa keanekaragaman tidak selalu berarti stabilitas. Kedua pendapat ini ditopang oleh argumen-argumen ekologi yang masuk akal, masing-masing ada benarnya dan ada kelemahannya (Rososoedarmo, 1990).
Habitat alami seperti hutan, kerusakan karena faktor serangga herbivora sangat jarang terjadi. Hal ini mungkin disebabkan karena di dalam habitat hutan jumlah serangga karnivora  lebih banyak dan keragaman jenis serangga juga jauh lebih tinggi dan kompleks dibandingkan agroekosistem. Pada lahan pertanian, adanya praktek pertanian memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap keanekaragaman serangga (Odum, 1993).
Dalam suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, beberapa diantaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota lain dari komunitas itu. Suatu interaksi dapat terdiri atas beberapa bentuk yang berasal dari hubungan pisitif (berguna) sampai interaksi negative (berbahaya). Bilamana sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama, persaingan akan terjadi. Persaingan demikian dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (persaingan interspesifik) atau antara anggota spesies yang sama (intraspesifik). Perbandingan dapat terjadi dalam makanan atau ruang. Dalam hubungan persaingan antara dua spesies, ini dapat merupakan bentuk eksploitasi makanan yang tersedia dalam waktu singkat, atau merupakan gangguan bilamana organisme-organisme itu saling melukai dalam usahanya untuk mendapatkan makanan (Wolf, 1992).
Keanekaragaman hayati tumbuh dan berkembang dari keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetis, dan keanekaragaman ekosistem. Karena ketiga  keanekaragaman ini saling kait-mengkait dan tidak terpisahkan, maka dipandang sebagai satu keseluruhan (totalitas) yaitu keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati menunjukkan adanya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkat gen, tingkat jenis dan tingkat ekosistem (Wolf, 1992).
          Ada 6 faktor yang saling berkait menentukan derajat naik turunnya keanekaragaman jenis (Krebs,  1978) yaitu :
1.    Waktu.
Keragaman komunitas bertambah sejalan dengan waktu, berarti komunitas tua yang sudah lama berkembang, lebih banyak terdapat organisme dari pada komunitas muda yang belum berkembang. Dalam ekologi, waktu dapat berjalan lebih pendek atau hanya sampai puluhan generasi. Skala ekologis mencakup keadaan dimana jenis tertentu dapat bertahan dalam lingkungan tetapi belum cukup waktu untuk menyebar sampai ketempat tersebut. Keragaman jenis suatu komunitas bergantung pada kecepatan penambahan jenis melalui evolusi tetapi bergantung pula pada kecepatan hilang jenis melalui kepenuhan dan emigrasi.




2.    Heterogenitas ruang.
Semakin heterogen suatu lingkungan fisik semakin kompleks komunitas flora dan fauna di tempat tersebut dan semakin tinggi keragaman jenisnya. Faktor heterogenitas berlaku pada skala makro maupun mikro.
3.    Kompetisi.
Terjadi apabila sejumlah organisme (dari spesies yang sama atau yang berbeda) menggunakan sumber yang sama ketersediaannya kurang, atau walaupun ketersediaan sumber tersebut cukup namun persaingan tetap terjadi juga bila organisme-organisme itu memanfaatkan sumber tersebut, yang satu menyerang yang lain atau sebaliknya.
4.    Pemangsaan.
Pemangsaan yang mempertahankan komunitas populasi dari jenis bersaing yang berbeda dibawah daya dukung masing-masing selalu memperbesar kemungkinan hidup berdampingan sehingga mempertinggi keragaman, apabila intensitas dari pemengsaan terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menurunkan keragaman jenis.
5.     Kestabilan iklim.
Makin stabil keadaan suhu, kelembaban, salinitas, pH dalam suatu
6.    Produktifitas
Merupakan syarat mutlak untuk keanekaragaman yang tinggi.

Keenam faktor ini saling berinteraksi untuk menetapkan keanekaragaman jenis dalam komunitas yang berbeda. Keanekaragaman spesies sangatlah penting dalam menetukan batas kerusakan yang dilakukan terhadap sistem alam akibat turut campur tangan manusia (Michael, 1995).
BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
            Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah alat tulis menulis, dan patok

III.2 Bahan
            Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah tali rafia atau meteran, organisme tumbuhan atau hewan  dan areal yang akan diamati

III.3 Cara Kerja
            Cara kerja dari percobaan ini adalah :
1.      Dipilih suatu areal komunitas yang akan diamati.
2.      Dibentangkan tali rafia secara lurus sepanjang 30 meter
3.      Dilakukan pengamatan areal dengan metode jalur berpetak dimana dibentuk plot sebesar 10 x 10 meter sebanyak tiga kali. Dalam plot 10 x 10 meter dibentuk lagi plot 5 x 5 meter dan di dalam plot 5 x 5 meter dibentuk lagi plot 1 x 1 meter. Plot 10 x 10 meter dibentuk secara zig-zag di sepanjang tali rafia yang dibentangkan.
4.      Dihitung banyak pohon pada plot 10 x 10 meter, semak pada plot 5 x 5 meter dan rumput pada plot 1 x 1 meter
5.      Dicatat data yang diperoleh .
     

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengambilan Data
      Tabel 1. Data Vegetasi dengan menggunakan metode plot berpetak
No
Nama spesies
Family
Jumlah
1
Pohon Flamboyan Delonix regia
3
2
Pohon Bungur Lagerstroemia speciosa
2
3
Pohon Kemiri Aleurites moluccana
1
4
Pohon mengkudu Morinda citrifolia
1
5
Pohon belimbing wuluh Averrhoa bilimbi
1
6
Pohom jeruk manis Citrus sinensis
1
7
Bugenvil Bougainvillea glabra
1
8
Rumput gajah Pennisetum purpureum
73
Total Individu
83

IV. 2 Analisis Data
IV.2.1 Indeks Keanekaragaman dengan Menggunakan Indeks Shannon-Wiener
            Keanekaragaman dapat dihitung dengan menggunakan indeks Shannon-Wiener ( Odum, 1993) dengan rumus sebagai berikut :
H’ = - ∑ Pi ln Pi            Pi =
Dimana :
       H’ = Indeks Shannon-Wiener
       ni  = Jumlah individu  spesies I
       N  = Jumlah total individu
H’ = - ∑ Pi ln Pi          Pi =
      = - {   ln   +  ln   +   ln  +   ln   +    ln  +  ln   +   ln                                 +  ln 
       = -  ln 0,036 + 0,024 ln 0,024 + 0,012 ln 0,012 + 0,012 ln 0,012 +                      0,012 ln 0,012 + 0,012 ln 0,012 + 0,012 ln 0,012  + 0,88 ln 0,88 }
            = - { - 0,129 + (-) 0,009 + (-) 0,053 + (-) 0,053 + (-) 0,053
              + (-) 0,053 + (-) 0,053 + (0,0105).
       = - { - (0,129 + 0,009 + 0,053 + 0,053 + 0,053 + 0,053 + 0,053
+ 0,0105)}
       =  - {-(1,283)}
       = 1,283
            Kriteria indeks keanekaragaman dibagi dalam 3 kategori yaitu :
H’ < 1             = keanekaragaman rendah
1 < H’ < 3       = keanekaragaman sedang
H’ > 3              = keanekaragaman tinggi
IV.2 Indeks Dominansi dengan Menggunakan Indeks Simpson
            Indeks dominansi dapat dihitung dengan menggunakan indeks Simpson (Odum, 1917) dengan rumus sebagai berikut :
Ds =  ∑  ( Pi )2               Pi =
                 I=1
Dimana :
       Ds = Indeks Simpson
       ni  = Jumlah individu  spesies I
       N  = Jumlah total individu

Ds   =  ∑  ( Pi )2             Pi =
                 I=1
       = (  )2 + ( ) 2+(  ) 2+ (  ) 2+ (  ) 2+ ( ) 2+ ( ) 2+(  ) 2
      =  +  +  +   +   +  +  +
       =
       = 0,776
            Kriteria indeks dominansi dibagi dalam 3 kategori yaitu :
0,01 – 0,30      = Dominansi rendah
0,31 – 0,60      = Dominansi sedang
0,61- 1,00        = Dominansi tinggi
IV.2 Pembahasan
Keanekaragaman jenis merupakan karakteristik tingkatan dalam komunitas berdasarkan organisasi biologisnya, yang dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitasnya. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies dengan kelimpahan spesies sama dan hampir sama. Sebaliknya jka suatu komunitas disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan maka keanekaragaman jenisnya rendah.
Pada percobaan ini mengenai keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dilakukan pengambilan sampel dengan metode jalur berpetak . Metode jalur berpetak  digunakan dua cara untuk menghitung suatu keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dan menghitung dominansi keanekaragaman jenis suatu komunitas dengan menggunakan Indeks Simpson dan Indeks Shannon-Weiner.
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil yaitu pada  indeks  keanekaragaman yang dihitung dengan menggunakan indeks Shannon-Wiener adalah H= 1,283 yang berada pada 1 < H’ < 3 artinya bahwa keanekaragaman jenis tergolong sedang, sedangkan pada indeks dominansi dengan menggunakan indeks Simpson diperoleh hasil yaitu Ds= 0,776 yang berada diantara 0,61 – 1,0 yang artinya dominansi tersebut tergolong tinggi.
Kenekaragaman jenis dalam suatu komunitas dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat menyebabkan dominansi tumbuhan (organisme) dalam suatu komunitas, seperti adanya gangguan biotik dan tingkat suksesi dan kestabilan komunitas, karena suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies (jenis) dengan kelimpahan spesies sama atau hampir sama. Dari hasil perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa  apabila keanekaragaman jenis suatu areal rendah maka dominansi keanekaragaman jenis tergolong tinggi.





BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan percobaan maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Berdasarkan indeks  Shannon – Wiener, nilai keanekaragaman jenis di  Canopy  adalah  1,283  yang  menunjukkann tingkat keanekaragaman tergolong rendah, sedangkan indeks  Simpson diperoleh Ds=  0,776 yang menunjukkan bahwa dominansi dalam lingkungan Canopy tergolong tinggi.
2.    Untuk menentukan keanekaragaman jenis  disuatu komunitas digunakan Indeks Shannon - Wiener, sedangkan untuk menentukan  dominansi suatu komunitas dapat digunaka Indeks Simpson

V.2 Saran
Sebaiknya percobaan ini dilakukan pada areal yang lebih luas lagi.






DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N. A., J. B. Reece, and L. A. Urry., 2008. BIOLOGI Edisi kedelapan    jilid 3. Erlangga, Jakarta.
Krebs, C. J., 1985. Ecology. The Experimental Analisys of Distribution and             Abudance. Third Edition. Harper & Raws Publishers. New York.

Michael, P. E., 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.  Universitas Indonesia, Jakarta.

Odum, Eugene., 1993. Dasar-dasar Ekolog. Gadjah Mada University press, Yogyakarta.

Resosoedarmo, Soedjiran., 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya, Jakarta.

Umar, M. R., 2012. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Laboratorium Ilmu Lingkungan Kelautan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Wolf, L., 1992. Ekologi Umum.  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar