Jumat, 07 Juni 2013

Final wastek


NAMA            : NUR SAKINAH
NIM                : H41112293
JURUSAN      : BIOLOGI B
M.K                 : OSEANOLOGI PENDAHULUAN

1.      jika di suatu danau air tawar terdapat dua lapisan dengan suhu masing-masing 2 ºc dan 4 ºc ,  maka pada kondisi stabil .
a.       lapisan mana yang berada paling bawah?
b.      Jelaskan alasan jawaban 1.a ?
jawaban :
a.       lapisan yang berada paling atas adalah lapisan yang bersuhu 2ºc.
b.      Suhu menurun secara teratur sesuai dengan kedalaman. Semakin dalam suhu akan semakin rendah atau dingin. Hal ini diakibatkan karena kurangnya intensitas matahari yang masuk kedalam perairan. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu air relatif konstan dan berkisar antara 2°C – 4°C. Suhu mengalami perubahan secara perlahan-lahan dari daerah pantai menuju laut lepas. Umumnya suhu di pantai lebih tinggi dari daerah laut karena daratan lebih mudah menyerap panas matahari sedangkan laut tidak mudah mengubah suhu bila suhu lingkungan tidak berubah. Di daerah lepas pantai suhunya rendah dan stabil. Lapisan permukaan hingga kedalaman 200 meter cenderung hangat, hal ini dikarenakan sinar matahari yang banyak diserap oleh permukaan. Sedangkan pada kedalaman 200-1000 meter suhu turun secara mendadak yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang tajam. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu air laut relatif konstan dan biasanya berkisar antara 2-4°C.
Faktor yang mempengaruhi suhu permukaan laut adalah letak ketinggian dari permukaan laut (Altituted), intensitas cahaya matahari yang diterima, musim, cuaca, kedalaman air, sirkulasi udara, dan penutupan awan (Hutabarat dan Evans, 1986).
Well-mixed surface layer(10- 500 m) merupakan lapisan yang hangat di bagian teratas dimana pada lapisan ini gradient suhu berubah secara perlahan. Lapisan ini juga biasa disebut lapisan epilimnion.
Thermocline, lapisan transisi (500 - 1000 m) merupakan lapisan dimana gradient suhu berubah secara cepat sehingga terjadi perubahan suhu yang sangat mencolok. Pada lapisan termoklin ini memiliki ciri gradien suhu yaitu perubahan suhu terhadap kedalaman sebesar 0.1ºC untuk setiap pertambahan kedalaman satu meter.
Deep layer (lapisan yang relatif homogen dan dingin (> 1000 m) merupakan lapisan terbawah yaitu lapisan dimana suhu air rendah bahkan relative konstan yaitu sebesar 4oC. Lapisan ini juga biasa disebut lapisan hipilimnion

2. jelaskan apa yang dimaksud dengan suhu insitu (T) dan suhu potensial ?
Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan temperatur air laut yaitu temperatur insitu (selanjutnya disebut sebagai temperatur saja) dan temperatur potensial. Temperatur adalah sifat termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut. Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Temperatur menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan temperatur dihubungkan oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 10. Jika kandungan energi panas nol (tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka temperaturnya secara absolut juga nol (dalam skala Kelvin). Jadi nol dalam skala Kelvin adalah suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam suatu fluida. Temperatur air laut di permukaan ditentukan oleh adanya pemanasan (heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling) di daerah lintang tinggi. Kisaran harga temperatur di laut adalah -20 s.d. 35°C.
Tekanan di dalam laut akan bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Sebuah parsel air yang bergerak dari satu level tekanan ke level tekanan yang lain akan mengalami penekanan (kompresi) atau pengembangan (ekspansi). Jika parsel air mengalamai penekanan secara adiabatis (tanpa terjadi pertukaran energi panas), maka temperaturnya akan bertambah. Sebaliknya, jika parsel air mengalami pengembangan (juga secara adiabatis), maka temperaturnya akan berkurang. Perubahan temperatur yang terjadi akibat penekanan dan pengembangan ini bukanlah nilai yang ingin kita cari, karena di dalamnya tidak terjadi perubahan kandungan energi panas. Untuk itu, jika kita ingin membandingkan temperatur air pada suatu level tekanan dengan level tekanan lainnya, efek penekanan dan pengembangan adiabatik harus dihilangkan. Maka dari itu didefinisikanlah temperatur potensial, yaitu temperatur dimana parsel air telah dipindahkan secara adiabatis ke level tekanan yang lain. Di laut, biasanya digunakan permukaan laut sebagai tekanan referensi untuk temperatur potensial. Jadi kita membandingkan harga temperatur pada level tekanan yang berbeda jika parsel air telah dibawa, tanpa percampuran dan difusi, ke permukaan laut. Karena tekanan di atas permukaan laut adalah yang terendah (jika dibandingkan dengan tekanan di kedalaman laut yang lebih dalam), maka temperatur potensial (yang dihitung pada tekanan permukaan) akan selalu lebih rendah daripada temperatur sebenarnya.
Satuan untuk temperatur dan temperatur potensial adalah derajat Celcius. Sementara itu, jika temperatur akan digunakan untuk menghitung kandungan energi panas dan transpor energi panas, harus digunakan satuan Kelvin. 0°C = 273,16K. Perubahan 10°C sama dengan perubahan 1K.
Seperti telah disebutkan di atas, temperatur menunjukkan kandungan energi panas, dimana energi panas dan temperatur dihubungkan melalui energi panas spesifik. Energi panas persatuan volume dihitung dari harga temperatur menggunakan rumus Q = densitas energi panas specifik*temperatur (temperatur dalam satuan Kelvin). Jika tekanan tidak sama dengan nol, perhitungan energi panas di lautan harus menggunakan temperatur potensial. Satuan untuk energi panas (dalam mks) adalah Joule. Sementara itu, perubahan energi panas dinyatakan dalam Watt (Joule/detik). Aliran (fluks) energi panas dinyatakan dalam Watt/meter2 (energi per detik per satuan luas)

3.  Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi salinitas ?
Jawaban :
a)      Pola sirkulasi air, yaitu gerakan mengalirnya suatu massa air
b)      Aliran sungai, banyak sedikitnya sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.
c)      Penguapan air, makin besar tingkat penguapan air laut disuatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
d)     Curah hujan, makin banyak curah hujan disuatu wilayah laut maka salinitas air laut akan rendahbegitupun sebaliknya.
4. Stabilitas kolom air merupakan salah satu aspek oseanografi yang perlu diperhatikan untuk menentukan di kedalaman berapa tailing (limbah pertambangan) dapat dibuang dengan aman.
a. pipa pembuangan tailing sebaiknya diletakkan pada lapisan yang stabil, tidak stabil atau netral? jelaskan alasan anda
           
b. Lapisan yang stabil di bawah permukaan laut dapat diidentifikasi dari distribusi suhu atau densitas secara vertikal (terhadap kedalaman). lapisan yg bagaimanakah yang merupakan lapisan yg stabil? jelaskan jawaban anda berdasarkan gambar dan perumusan materinya!
Jawaban :
     Teknologi penempatan tailing ke dasar laut merupakan salah satu hasil penerapan teknik penempatan tailing unggulan yang dianggap lebih kecil dampak dan resikonya terhadap lingkungan, dibandingkan dengan penempatan tailing di darat. Oleh sebab itulah, penempatan tailing di dasar laut merupakan pilihan yang dianggap lebih aman, karena diupayakan berada pada kondisi dasar laut yang stabil dimana fenomena alam lebih kecil pengaruhnya.

5. apakah yang di maksud dengan upwelling? apa manfaatnya kita mengetahui lokasi-lokasi dimana upwelling terjadi.
     Jawaban :
            Upwelling adalah penaikan massa air laut dari suatu lapisan dalam ke lapisan permukaan.  Angin yang mendorong lapisan air permukaan mengakibatkan kekosongan di bagian atas, akibatnya air yang berasal dari bawah menggantikan kekosongan yang berada di atas.  Gerakan naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas tinggi, dan zat-zat hara yang kaya ke permukaan.
             Manfaat kita mengetahui lokasi-lokasi upwelling yaitu untuk membantu kita dalam melakukan suatu kegiatan. Contohnya saja dengan kita mengetahui lokasi upwelling artinya kita dapat memprediksi tempat banyaknya ikan,
    

LALAT BUAH ( Drosophila melanogaster)


LAPORAN PRAKTIKUM
GENETIKA
PRAKTIKUM IV
LALAT BUAH ( Drosophila melanogaster)

NAMA                       : NUR SAKINAH
NIM                            : H41112293
KELOMPOK            : III (TIGA) B
HARI/TANGGAL    : KAMIS/21 MARET 2013
ASISTEN                   : JULIAR NUR
LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Genetika adalah cabang biologi yang berurusan dengan hereditas dan variasi. Unit-unit herediter yang ditramsmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (dengan kata lain diwariskan) disebut gen. Gen terletak dalam molekul-molekul panjang asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid, DNA) yang ada di dalam semua sel. DNA, bersama dengan suatu matriks protein, membentuk nucleoprotein dan terorganisasi menjadi struktur yang disebut kromosom yang ditemukan di dalam nukleus atau daerah inti sel. Sebuah gen mengandung kode informasi bagi produksi protein. Normalnya, DNA adalah molekul yang stabil dengan kapasitas bereplikasi sendiri. Terkadang, bias terjadi perubahan spontan pada suatu DNA. Perubahan itu, disebut mutasi, dapat menyebabkan perubahan kode DNA yang mengakibatkan produksi protein yang salah satu tidak lengka (Stansfield, 2007).
Orang  yang pertama yang menggunakan Lalat buah sebagai objek penelitian Genetika adalah Thomas Hunt Morgan yang berhasil menemukan penemuan pautan seks. Spesies lalat buah, Drosophila melanogaster, sejenis serangga biasa yang umumnya tidak berbahaya yang merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah adalah serangga yang mudah berkembang biak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangbiakkan setiap dua minggu. Karakteristik ini menjadikan lalat buah menjadi organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik (Yatim,  1983).
Dalam melakukan praktikum genetika, kita semakin banyak menggunakan Drosophila sebagai dahan pemodelan genetika. Siklus hidup dari Drosophila sangat penting untuk diketahui karena denngan kita mengetahuinya kita dapat memberikan perlakuan yang sesuai dalam perawatannya.selain itu, kita dapat mengetahui kondisi yang tepatbagi masing-masing fase. Berdasarkan hal tersebut, sehingga praktikum ini dilakukan untuk bagaimana cara pembuatan medium lalat buah, dan dapat mengetahui perbedaan antara jantan dan betina serta siklus hidup dari Drosophila melanogaster (Agus dan Sjafaraenan, 2013).
1.2  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
1.      Mengetahui komposisi  yang baik untuk pertumbuhan lalat buah
2.      Membuat medium biakan lalat buah dalam skala laboratorium
3.      Mengetahui morfologi lalat buah Drosophila melanogaster
4.      Mengamati pertumbuhan lalat buah yang dikawinkan
5.      Mengetahui tahapan-tahapan  dalam siklus hidup lalat buah
6.      Mengetahui pautan seks pada lalat buah.
1.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 21 Maret 2013, mulai pukul 14:30-18:30 WITA. Bertempat  di Laboratorium  Biololgi Dasar Lantai 1, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas  Hasanuddin, Makassar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Drosophila melanogaster, sejenis serangga biasa yang umumnya tidak berbahaya dan merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah adalah serangga yang mudah berkembangbiak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangkan setiap dua minggu. Karasteristik ini menunjukkan lalat buah organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik (Campbell, 2008).
Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah yang dapat ditemukan di buah-buahan busuk. Drosophila telah digunakan secara bertahun-tahun dalam kajian genetika dan perilaku hewan.
Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster (Teti, 2011):
Kingdom         : Animalia
Phillum            : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Diptera
Famili              : Drosophilidae
Genus              : Drosophila
Spesies            : Drosphila melanogaster
Selain itu, menurut Wheeleer (1981) Drosophila juga diklasifikasikan ke dalam sub ordo Cyclophorpha (pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw hooks) dan termasuk ke dalam seri Acaliptrata yaitu imago menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa .
Adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya Eltra (2012):
1.        Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
2.         Berukuran kecil, antara 3-5 mm.
3.        Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
4.        Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
5.        Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
6.        Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.
7.        Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
8.        Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam
9.        Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.
ciri-ciri  morfologi yang membedakan Drosophila jantan dan betina antara lain (Suryo, 2008) yaitu:
Betina
Jantan
Ukuran tubuh lebih besar dari jantan
Ukuran tubuh lebih kecil dari betina
Sayap lebih panjang dari sayap jantan
Sayap lebih pendek dari pada betina
Tidak terdapat sisir kelamin (sex comb)
Terdapat sisir kelamin (sex comb)
Ujung abdomen runcing
Ujung abdomen tumpul dan lebih hitam

Alasan digunakannya Drosophilla melanogaster sebagai bahan penelitian adalah karena lalat ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain (Suryo, 1984):
1.        Mudah diperoleh sehingga tidak menghambat penelitian
2.        Mudah dipelihara pada media makanan yang sederhana, pada suhu kamar dan  didalam botol  susus berukuran sedang
3.        Memiliki siklus hidup pendek (hanya kira-kira 2 minggu) sehingga dalam waktu satu tahun dapat diperoleh 25 generasi
4.        Mempunyai tanda-tanda kelamin sekunder yang mudah dibedakan.
5.        Hanya mempunyai delapan kromosom saja, tiga pasang kromosom autosom dan satu pasang kromosom seks.
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Perkembangan dimulai setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan. Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).
Tahap-tahap dari siklus hidup Dhrosophila melanogaster berikut ciri-cirinya, antara lain (Eltra, 2012) yaitu:
Tahapan
Ciri-Ciri
waktu
Telur
Berbentuk bulat lonjong, ukuran sekitar ± 0.5 mm, berwarna putih susu, pada ujung anteriornya terdapat dua tangkai kecil menyerupai sendok yang berfungsi agar telur tidak tenggelam, biasanya terdapat pada permukaan media.
± 24 jam
Larva instar 1
Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih bening, berukuran ± 1 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, belum memiliki spirakel anterior.
Larva instar 2
Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 2 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam untuk makan, memiliki spirakel anterior.
± 2 hari
Larva instar 3
Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 3-4 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam lebih besar dan jelas terlihat dibanding larva instar 2, memiliki spirakel anterior dan terdapat beberapa tonjolan pada spirakel anteriornya.
± 3 hari
Prapupa
Terbentuk setelah larva instar 3 merayap pada dinding botol, tidak aktif, melekatkan diri; berwarna putih; kutikula keras dan memendek; tanpa kepala dan sayap
± 4 hari
Pupa
Tidak aktif dan melekatkan diri pada dinding botol, berwarna coklat, kutikula keras, memendek, dan besegmen.
± 5 hari
Imago
Tubuh terbagi atas cephla, thorax, dan abdomen; bersayap transparan; memiliki mata majemuk biasanya berwarna merah; dan ciri-ciri lainnya menyerupai ciri lalat buah dewasa
± 9 hari

 faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya sebagai berikut (Bohari, 2011) yaitu:
a.         Suhu Lingkungan
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.
b.        Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina.
c.  Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan
Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak, cukup beberapa pasang saja. Pada Drosophila melanogaster dengan kondisi ideal dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa.
d.      Intensitas Cahaya
Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap
            Inti sel tubuh lalat buah hanya memiliki 8 buah kromosom saja, sehingga mudah sekali diamati dan dihitung. Delapan buah kromosom tersebut dibedakan atas  (Suryo, 1984) yaitu:
1.        6 buah kromosom (atau 3 pasang) yang pada lalat betina maupun jantan bentuknya sama. Karena itu kromosom-kromosom ini disebut autosom (kromosom tubuh), sisingkat dengan huruf A.
2.        2 buah kromosom (atau 1 pasang) disebut kromosom kelamin (seks kromosom), sebab bentuknya ada yang berbeda pada lalat betina dan jantan.
Kromosom kelamin dibedakan atas suryo:
1.        Kromosom X yang berbentuk batang lurus. Lalat betina memiliki 2 kromosom X.
2.        Kromosom Y yang sedikit membengkok pada salah satu ujungnya. Kromosom Y lebih pendek dari pada kromosom X. Lalat jantan memiliki sebuah kromosom X dan Y. Lalat betina normal memiliki kromosom Y. Lalat betina memiliki 2 kromosom kelamin sejenis maka lalat betina dikatakan homogametik sedangkan jantan bersifat heterogametik
Berhubungan dengan itu formula kromosom untuk lalat buah ialah sebagai berikut:
a.       Lalat betina ialah 3 AAXX (= 3 pasang autosom + 1 pasang kromosom X)
b.      Lalat jantan ialah 3 AAXY (= 3 pasangan autosom + sebuah kromosom X + sebuah kromosom Y).
Dalam keadaan normal, lalat betina membentuk satu macam sel telur saja yang bersifat haploid (3AX). Tetapi lalat jantan membentuk 2 macam spermatozoa yang haploid. Ada spermatozoa yang membawa kromosom X (3AX) dan ada yang membawa kromosom Y (3AY). Apabila sel telur itu dibuahi spermatozoon yang membawa kromosom X, terjadilah lalat betina yang diploid (3AAXX). Tetapi bila sel telur itu dibuahi spermatozoa yang membawa kromosom Y, terjadilah lalat jantan yang diploid (3AAXY). Kadang-kadang diwaktu meosis selama pembentukan sel-sel kelamin, sepasang kromosom kelamin itu tidak memisahkan diri, melainkan tetap berkumpul.  Peristiwa ini disebut “nondisjunction”. Andaikan terjadi nondisjunction selama oogenesis (pembentukan sel telur) akan terbentuk dua macam sel telur, yaitu sebuah sel telur yang membawa dua kromosom X (3AXX) dan sebuah sel telur tanpa kromosom X (3AO) (Suryo, 2008).
Adanya nondisjunction ini tentu saja mengakibatkan terjadinya berbagai macam kelainan dan keturunan yaitu (Suryo, 2008):
1.    Lalat betina super (AAXXX), yaitu apabila spermatozoa membawa kromosom Xmembuahi sel telur yang mempunyai dua kromosom X. Lalat ini tidak sempurna pertumbuhannya, steril, sangat lemah, dan hidup tidak lama.
2.    Lalat AAXXY, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosomY membuahi sel teluryang mempunyai 2 kromosom X. Lalat ini betina subur, tak ada bedanya  dengan lalat beyina biasa. Berarti  kromosom Y pada drosphila tidak memberipengaruh pada seks.
3.    Lalat AAXO, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosom X membuahi sel telurtanpa kromosom X. Lalat ini jantan dan steril
4.    Lalat ginandromorf, ialah lalat yang tubuhnya separuh bersifat betina dan separuhnya bersifat jantan. Untuklalat ini tidak dapat diberikan formulasi kromosomnya
5.    Lalat interseks AAAXX, yaitu lalat yang merupakan campurann antara lalat betina dan jantan, triploid (3n) untuk autosomnya dan memiliki 2 kromosom X, steril.
6.    Lalat jantan super AAAXY, yaitu lalat jantan triploid untuk autosomnya,  sperti halnya  dengan lalat betina super maka pertumbuhannya tidak sempurna, steril, sangat lemah, dan hidup tidaklama.
7.    Lalat dengan kromosom X melekat pada salah satu ujungnya (attached X cromosomes) AAXXY  .lalat ini memiliki fenotip seperti lalat betina normal,tetapi bila diperiksa menggunakan mikroskop maka inti selnya mengandung sepasang kromosom X yang saling melekat pada ujungnya ditambah dengan adanya kromosom Y.
Pada percobaan morgan mengenai drosphila melanogaster terdapat  seekor jantan dengan mata putih, dan tidak cemerlang yang menjadi ciri khas spesies itu. Ketika jantan bermata putih ini dikawinkan dengan betina bermata merah, semua keturunannya bermata merah. Ini suatu tanda bahwa  jika sifat mata putih itu ditentukan  oleh sutau gen khusus, maka gen itu bersiifat resesif.  Ketikamorgan melakukan persilangan morgan menemukan semua keturunan yang bermata putih itu jantan.  Tidak terdapat seekor betiina pun yang bermata putih. Morgan menyimpulkan bahwa jika diasumsikan bahwa alela yang bersangkutan terletakdikromosom X.  Lalat betina mempunyai 2kromosom X harus homozigot untuk mata putih agar sifat itu dapat  dilihat. Sebaliknya lalat jantan karena hanya memiliki satu kromosomX alela apapun yang terdapat pada kromosom tersebut  akan memperlihatkan sifat itu.  Morgan menamakan sifat menurun demikian itu terpaut X karena gen terletak  pada kromosom X (Kimball, 1990)



BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
III.1. 1 Alat
            Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah botol nescafe, panci kecil, baskom sedang, blender, pisau, pengaduk, sendok, timbangan terigu, kompor minyak tanah, korek api, spons.
III.1.2 Bahan
            Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu lalat buah Gula  merah 150gram, pisang ambon 300 gram, agar-agar powder putih 14 gram, ragi, aquades 30 ml dan tisu.
III. 2 Cara Kerja
A.    Morfologi Lalat buah Drosophila melanogaster
            Cara kerja dari morfologi lalat buah yaitu:
1.    Mikroskop disediakan beserta perlengkapannya, kemudian mikroskop tersebut diatur sampai menemukan titik fokus yang paling baik
2.    Lalat tersebut dibius dengan cara ditutupi dengan kapas yang telah diberi alkohol padapermukaan botol tempat sediaan lalat tersebut
3.    Kemudian lalat yangsudah dibius tersebut diambil dengan pingset,lalu lalattersebut diletakkan pada objek  gelas atau kaca preparat sebelum lalat tersebut bangun karena bius tersebut hanya bisa bertahan selama 2 menit.
4.    Amati lalat dengan mikroskop dengan melihat morfologi lalat buah.

B.     Pembuatan medium lalat buah Drosophila melanogaster
1.    Alat dan bahan disiapkan  sebelum dilakukan percobaan
2.    Pisang ambon di potong kecil-kecil  agar cepat dan mudah untuk dihaluskan
3.    Gula merah dihancurkan agar mudah tercampur saat di masak.
4.    Timbang bahan-bahan sesuai dengan takarannya pada timbangan yang disediakan
5.    Pisang ambon yang telah di potong kecil-kecil kemudian di haluskan menggunakan blender
6.    Air 30 ml dimasukkan dalam panci lalu di tambahkan agar-agar 14 gr kemudian dimasak sambil diaduk-aduk
7.    Setelah beberapa menit, kemudian masukkan gula merah yang telah di haluskan, aduk sampai merata.
8.    Kemudian Masukkan pisang ambon yang telah di haluskan, aduk hingga merata
9.    Setelah di masak, adonan tersebut di masukkan kedalam botol nescafe yang  telah di sterilkan menggunakan alkohol.
10.Diamkan beberapa saat, setelah sedikit dingin masukkan tisu ke dalam botol      tersebut  yang berfungsi untuk menyerap air dan ditaburi ragi secukupnya.
11.Amati pertumbuhan lalat buah drosophila melanogaster dalam botol tersebut.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Hasil
IV.1.1 Morfologi Lalat Buah Drosophila Melanogaster
       
                                                                                                  1
                                                                                                     2
                                                                                                     3                                              
                                                                                                      4
     5
                                                                                                     6
                                                                                                     7

             Gambar 1. Drosphila melanogaster jantan

                                                                                                 1
                                                                                          2
                                                                                                  3
                                                                                              4 
                                                                                               5
                                                                                          6
BETINA
s

      Gambar 2. Drosphila melanogaster betina
Keterangan :
1.      Kepala (Caput)
2.      Betis ( Tibia)
3.      Perut ( Abdomen)
4.      Kaki ( Peda)
5.      Sayap  (Pteron)
6.      Ruas-ruas pada abdomen
7.      Sisir kelamin (Sex comb)
IV. 1. 2 Pembuatan medium Pertumbuhan Lalat Buah
      
     Gambar 3. Medium pertumbuhan Drosphila melanogaster
IV. 1. 3 Siklus Hidup Lalat Buah Drosophila melanogaster
Hari
Perubahan/ Pertumbuhan
hasil pengamatan
hari/tanggal
I

Telur (embrio)
berwarna putih dan terlihat seperti titik  (bercak putih) yang menempel pada dinding botol
Jumat/ 22 Maret 2013
II
telur berubah menjadi instar larva (instar 1)
Berwarna putih, memliki segmen seperti cacing namun belum lincah. gerakannya masih semu
Senin, 25 Maret 2013
III
Instar larva membesar
(instar 2)
Ukurannya lebih besar dibanding instar 1, terlihat warna kehitaman pada bagian anterior larva (mulut larva)
Selasa, 26 Maret 2013
IV
Instar larva lebih besar dari hari sebelumnya (larva instar 3
warna hitam yang muncul lebih jelas, gerakannya lebih aktif dan ukurannya relative lebih besar
Rabu, 27 Maret 2013
V
instar larva berubah menjadi prepupa
Tidak ada lagi pergerakan, pada tubuh larva muncul selaput dan tubuhnya memendek
Kamis, 28 Maret 2013
VI
prepupa menjadi pupa
kutikulanya menjadi keras seperti cangkang dan berpigmen (agak kecoklatan), tidak bergerak (diam
Jumat, 29 Maret 2013
VII-VIII
Pupa menjadi imago
ukuran relative kecil dan sayap belum terbentang sempurna (beberapa lalat sudah mulai untuk terbang)
Sabtu-Minggu,30-31 Maret 2013
IX-X
lalat dewasa
Sayap telah terbentang sempurna, bergerak aktif dalam medium (terbang), semua lalat dalam medium terbang aktif
Senin-Selasa, 1-2 April 2013

IV. 1. 4 Pautan Seks
            Pada percobaan ini, tidak terlihat adanya pautan seks, Dimana pada percobaan,  setelah diamati semua lalat memiliki mata berwarna merah dan tidak ada yang berwarna putih. Ini menandakan bahwa tidak  terjadi pautan seks pada mata Drosophila melanogaster yang terdapat di dalam medium.
IV. 2 Pembahasan
            Secara morfologi, lalat buah Drosophila melanogaster jantan dan betina dapat dibedakan dengan melihat beberapa bagian pada tubuh lalat buah, diantaranya yaitu pada lalat buah betina memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan lalat buah jantan, ujung abdomen pada lalat buah betina runcing dan terdapat garis-garis melintang berwarna hitam sedangkan pada jantan ujung abdomennya tumpul dan berwarna kehitam-hitaman dan memiliki sedikit garis hitam melintang. Extremitas (kaki) depan pada lalat buah jantan memiliki sisir kelamin (seks comb), tetapi pada lalat betina  tidak terdapat seks comb.
            Pada pembuatan medium percobaan lalat buah  yaitu pertama-tama semua bahan yang akan digunakan ditakar terlebih dahulu, dengan menggunakan formula yaitu gula merah sebanyak 150 gr, pisang ambon sebanyak 300 gr,  agar-agar 7 gr, air 1 liter dan ragi secukupnya.
            Manfaat dari bahan-bahan yang digunakan pada pembuatan lalat buah ini yaitu pertama gula merah berfungsi sebagai sumber glukosa, pisang ambon berfungsi  menghasilkan aroma yang khas sehingga lalat tertarik, air berfungsi untuk mencampurkan adonan, agar-agar berfungsi untuk penguat adonan, ragi berfungsi untuk memberikan bau etanol pada lalat buah.
            Dari hasil percobaan, terlihat adanya perbedaan antara botol medium yang kecil dengan yang ukuran yang besar, dimana pada botol medium yang kecil populasi lalat buah sangat banyak, dibandingkan dengan botol  besar. Hal ini dikarenakan adanya kontaminasi jamur pada botol medium ini, sehingga pertumbuhannya hanya sampai pada fase pupa saja (mati)
            Drosophila melanogaster memiliki siklus hidup yang pendek, yaitu dimulai dari telur - larva instar 1 – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Larva instar I umumnya  muncul pada hari kedua yang berupa ulat kecil yang mulai bergerak, umumnya ulat-ulat tersebut berada dipermukaan medium karena merupakan sumber makanan. Fase selanjutnya larva instar II, yaitu ukuran larva lebih besar dan terlihat warna kehitam-hitaman pada bagian anterior (mulut) larva.
            Pada larva instar III, ukuran larva relatif besar dan warna hitam yang muncul lebih jelas, pergerakan larva lebih aktif. Selanjutnya, pada fase prapupa yaitu sudah tidak ada lagi pergerakan dan pada tubuh larva  muncul selaput dan tubuhnya pendek. Dari prapupa selanjutnya menjadi pupa, kutikula menjadi keras seperti cangkang dan berpigmen (agak kecoklatan) dan tidak bergerak. Selanjutnya, pupa akan menetas setelah 8 hari tegantung dari suhu lingkungannya dan pada hari ke 10 terbentuklah lalat dewasa dengan sayap yang telah terbentang sempurna, sehingga lalat bergerak aktif (terbang) di dalam medium.
            Pada percobaan ini, tidak ditemukan adanya lalat buah yang bermata putih, semua lalat  yang berada didalam medium memiliki mata berwarna merah.
                                                                                    


BAB V
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
            Berdasarkan percobaan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa:
1.    Morfologi dari Drosophila melanogaster yaitu pada Drosophila jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari betina, ujung abdomen pada lalat jantan tumpul sedangkan pada lalat betina runcing, dan pada lalat jantan memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan  memiliki sisir kelamin (Seks Comb) sedangkan pada lalat betina memiliki 6 ruas dan tidak memiliki sisir kelamin.
2.    Siklus hidup Drosophila melanogaster yaitu mengalami metamorfosis sempurna yang diawali dengan telur-larva-larva instar 1- larva instar II- larva instar III-prapupa-pupa-imago. Dari lalat dewasa hingga menghasilkan imago membutuhkan waktu sekitar ±12  hari.
V.2 Saran
            Sebaiknya laboratorium genetika dapat menyediakan alat-alat laboratorium dengan lengkap sehingga praktikum dapat berjalan lancar.




DAFTAR PUSTAKA
Agus, Rosana dan Sjafaraenan. 2013. Penuntun Praktikum Genetika Dasar.           Universitas  Hasanuddin: Makassar.

Bohari, Mega. 2011. Laporan genetika pemeliharaan lalat buah.     http://megabohari.blogspot.com. diakses pada tanggal 30 maret 2013            Pukul 21: 10 WITA.

Campbell, N. A.,J. B. Reece, and L. A. Urry. 2008. BIOLOGI Edisi kedelapan      jilid 3. Erlangga: Jakarta.

Eltra, 2012. Laporan Praktikum Genetika Penggunaan Lalat Buah Sebagai            Organisme Percobaan Genetika. http://eltra.blogspot.com. diakses pada           tanggal 30 Pukul 20: 15 WITA.

 

Kimball,  J. W. 1990. Biologi Umum. Erlangga: Jakarta

Silvia, Triana. 2003. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsenterasi Formaldehida    Terhadap Perkembangan Larva Drosophila. Universitas Padjdjaran:   Bandung        

Stansfield, W. D dan S. L. Elrod. 2007. Genetika Edisi Keempat. Erlangga:            Jakarta.

Suryo. 1984. Genetika. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Suryo. 2008. Genetika. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Teti. 2011. Laporan Praktikum Drosophila. http://teti-sby.blogspot.com. diakses   pada tanggal 27 Maret 2013 Pukul 11: 30 WITA.

Yatim, Wildan. 1983. Genetika Edisi ketiga. Tarsito: Bandung